Telaga di Ujung Kota

Telaga di Ujung Kota

Telaga di Ujung Kota

Sebuah cerpen tentang luka yang membesar menjadi ruang

I. Kepahitan yang Tergenggam

Aku menemukan rumah itu ketika langit sudah terlalu lelah untuk menjadi biru. Warnanya seperti air cucian piring yang sudah dipakai berkali-kali—abu-abu dengan sedikit kilau sabun yang tersisa. Tiga hari setelah pemakaman ibu, aku berjalan tanpa tujuan hingga kaki membawaku ke pinggiran kota, tempat rumah-rumah berdiri seperti gigi yang tanggal.

Di ujung jalan setapak yang hampir terlupakan, berdiri sebuah rumah kayu dengan teras menghadap ke sesuatu yang tidak bisa kulihat dari jauh. Seorang pria tua duduk di sana, mengupas sesuatu dengan pisau kecil. Tangannya bergerak lambat, seolah waktu tidak penting.

"Kamu terlihat seperti orang yang mencari sesuatu," katanya tanpa mengangkat kepala. Suaranya seperti kayu yang bergesekan.

Aku tidak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa. Sejak ibu meninggal, kata-kata terasa seperti benda asing di mulut.

"Masuk," katanya. Bukan perintah, bukan ajakan. Hanya kalimat yang mengambang di udara sore itu.

II. Ritual yang Tidak Memiliki Nama

Di dalam rumah itu, waktu bergerak dengan cara yang berbeda. Jam dinding menunjuk angka yang salah, atau mungkin aku yang salah. Pria tua itu—belakangan kusebut dia Pak Wirya meski tidak pernah ia memberitahu namanya—berjalan ke dapur dan kembali dengan segenggam serbuk cokelat di telapak tangannya.

"Ini kina," katanya. "Orang dulu menggunakannya untuk obat malaria. Tapi aku menggunakannya untuk hal lain."

Ia menuangkan air ke dalam gelas, lalu menaburkan serbuk itu. Adukan pelan, seperti sedang membangunkan sesuatu yang tidur. Gelas itu ia sodorkan padaku.

"Minum."

Aku meminum. Pahit. Bukan pahit seperti kopi atau obat. Pahit seperti menyesali sesuatu yang tidak bisa diubah. Pahit seperti kata-kata yang tidak sempat kuucapkan pada ibu.

"Pahit," kataku, hampir meludah.

Pak Wirya tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Ikut aku."

III. Telaga yang Mengingat Segalanya

Kami berjalan ke belakang rumah. Dan aku melihatnya.

Telaga itu bukan telaga biasa. Airnya terlalu tenang untuk sesuatu yang hidup, tapi terlalu hidup untuk sesuatu yang diam. Di permukaannya, aku bisa melihat langit yang bukan langit hari ini—mungkin langit kemarin, atau langit seratus tahun yang lalu. Di tepinya, tumbuh pohon willow yang cabang-cabangnya menyentuh air seperti jari-jari yang mencoba mengingat sesuatu.

"Telaga ini sudah ada sebelum kota ini bernama," kata Pak Wirya. "Dan akan tetap ada setelah nama itu dilupakan."

Ia mengeluarkan serbuk kina yang sama, menaburkannya ke permukaan telaga. Serbuk itu larut perlahan, seperti kabut yang menyerah pada matahari pagi. Dengan sepotong ranting willow, ia mengaduk air itu. Gerakannya menciptakan pusaran kecil yang melebar, melebar, hingga menyentuh tepi telaga.

"Ambil airnya. Minum."

Aku berlutut, menangkupkan tangan, dan mengambil air itu. Dingin. Segar. Seperti bangun tidur di pagi hari dan menyadari mimpi buruk sudah berakhir.

"Bagaimana rasanya?" tanya Pak Wirya.

"Segar," jawabku. "Tidak pahit."

Angin bertiup dari arah telaga, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—mungkin waktu, mungkin kenangan.

IV. Wadah yang Kita Pilih

Kami duduk di tepi telaga itu ketika sore berubah menjadi senja. Pak Wirya tidak berbicara, dan aku mulai mengerti bahwa diam pun bisa menjadi cara berbicara.

Tapi akhirnya ia berkata, "Kepahitan hidup itu seperti serbuk tadi. Jumlahnya tetap. Tidak bertambah, tidak berkurang. Yang berubah adalah wadahnya."

Aku melihat permukaan telaga yang mulai memantulkan bintang pertama. "Maksud bapak?"

"Hatimu adalah gelas atau telaga. Kamu yang memilih." Ia melempar kerikil kecil ke air. Riak melebar, tapi telaga tetap tenang. "Orang yang hatinya seperti gelas, sedikit kepahitan sudah membuat mereka tidak bisa minum. Tapi orang yang hatinya seperti telaga..."

Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Aku sudah mengerti.

Tapi mengerti tidak sama dengan bisa.

V. Luka yang Menjadi Telaga

Aku datang lagi keesokan harinya. Dan hari berikutnya. Pak Wirya tidak pernah bertanya mengapa. Kami hanya duduk di tepi telaga, kadang bicara, lebih sering diam.

Suatu sore, aku bertanya, "Bagaimana caranya? Membuat hati menjadi seperti telaga?"

Pak Wirya menatap air yang mulai berwarna merah oleh matahari terbenam. "Dengan membiarkan luka melebar, bukan menutupnya. Luka yang ditutup menjadi bisul. Luka yang dibiarkan melebar menjadi ruang."

Aku teringat ibu. Kata-kata terakhir yang tidak sempat kudengar karena aku sibuk dengan hal-hal yang sekarang tidak penting. Rasa bersalah yang menggenang di dada seperti air di gelas yang sudah terlalu penuh.

"Ibu saya..." Suaraku pecah. "Saya tidak sempat..."

"Dia tahu," potong Pak Wirya. Bukan dengan nada menghibur, tapi dengan kepastian yang aneh. "Ibu selalu tahu."

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis. Tidak seperti di pemakaman—tangis yang harus dijaga agar terlihat kuat. Ini tangis yang dalam, tangis yang berasal dari tempat yang tidak punya nama.

Dan anehnya, setelah menangis, dadaku terasa lebih lapang. Seperti ada ruang yang terbuka.

VI. Air yang Terus Mengalir

Minggu berganti minggu. Aku terus datang ke telaga itu. Kadang membawa pertanyaan, kadang hanya membawa diam. Pak Wirya selalu ada di sana, seperti pohon willow yang tidak pernah pergi.

Suatu hari, aku bertanya, "Kenapa bapak tinggal di sini? Di pinggir kota, sendirian?"

Ia tersenyum—kali ini senyum yang sampai ke mata. "Siapa bilang aku sendirian? Ada telaga ini. Ada pohon-pohon. Ada kamu yang datang mencari sesuatu."

"Apa yang bapak cari dulu, hingga menemukan tempat ini?"

Pak Wirya diam lama. Lama sekali. Lalu ia berkata, "Aku tidak mencari tempat ini. Tempat ini yang menemukan aku, ketika aku sudah tidak tahu harus kemana."

Seperti bagaimana aku menemukannya.

VII. Kepulangan dengan Pertanyaan

Pada kunjungan terakhirku—meski saat itu aku tidak tahu itu kunjungan terakhir—aku berkata, "Saya rasa saya sudah mengerti, Pak."

"Mengerti apa?"

"Tentang gelas dan telaga. Tentang hati yang lapang."

Pak Wirya tertawa pelan. "Mengerti itu mudah. Yang sulit adalah mempraktikkannya setiap hari, ketika kepahitan datang dalam bentuk yang tidak kamu duga."

Ia berdiri, mengambil sebatang ranting willow yang jatuh. "Telaga ini tidak diciptakan dalam satu hari. Air mengikis tanah bertahun-tahun, perlahan, sabar. Begitu juga dengan hati."

Aku menatap permukaan telaga. Refleksi wajahku di sana terlihat berbeda—atau mungkin aku yang berubah.

"Apa yang harus saya lakukan sekarang?"

"Pulang," katanya sederhana. "Dan setiap kali pahit datang, ingatlah telaga ini. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu punya pilihan: gelas atau telaga."

Epilog: Hujan di Kota

Enam bulan kemudian, aku kembali ke tempat itu. Jalanan setapak sudah lebih ditumbuhi rumput. Rumah kayu itu masih berdiri, tapi terasa kosong dengan cara yang berbeda—kosong seperti cangkang yang ditinggalkan.

Pak Wirya tidak ada.

Tapi telaga itu masih di sana, tenang seperti biasa. Aku duduk di tepinya, membiarkan kenangan enam bulan terakhir mengalir. Ada yang pahit—kehilangan pekerjaan, pertengkaran dengan adik, malam-malam insomnia. Tapi kali ini, kepahitan itu tidak mengendap seperti di gelas. Ia menyebar, larut, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Hujan mulai turun. Tetes demi tetes jatuh ke permukaan telaga, menciptakan ribuan lingkaran kecil yang saling tumpang tindih. Telaga menerima semuanya—hujan, dedaunan jatuh, kepahitan yang kutumpahkan dalam doa sunyi.

Dan tetap tenang.

Aku berdiri, basah kehujanan, tapi entah mengapa merasa lebih ringan. Di saku jaket, aku menemukan sesuatu—sebungkus kecil serbuk kina yang tidak kutahu sejak kapan ada di sana.

Mungkin dari Pak Wirya. Mungkin aku yang lupa mengambilnya. Atau mungkin, seperti banyak hal lain di tempat ini, asal-usulnya tidak penting.

Yang penting adalah pelajaran yang tersimpan di dalamnya: kepahitan itu tetap. Yang berubah adalah ruang dalam diri kita untuk menampungnya.

Aku berjalan pulang menembus hujan, membawa telaga itu di dalam dada.


Catatan Penulis: Cerpen ini terinspirasi dari kisah lama tentang kebijaksanaan hati, ditenun ulang dengan sentuhan realisme magis dan kontemplasi urban. Pohon willow yang disebutkan dalam cerita adalah simbol kesedihan yang diterima dalam berbagai tradisi, sementara kina—tanaman yang pernah menyelamatkan jutaan nyawa dari malaria—menjadi metafora untuk kepahitan yang bisa menjadi obat.

Comments