Ketika Hujan Mengingat Rasa: Refleksi atas Ketoprak Mamang dan Bumbu yang Tak Pernah Berubah
Kapan terakhir kali kita benar-benar mengingat sesuatu—bukan dengan kepala, tapi dengan lidah? Bukan dengan urutan kronologis atau narasi yang rapi, tapi dengan rasa yang tiba-tiba muncul di langit-langit mulut, serpihan sensasi yang menyelip di sela kesadaran seperti bumbu kasar yang tertinggal di gigi?
Saya membaca "Ketoprak Mamang dan Bumbu yang Tak Pernah Berubah" saat hujan turun sore ini. Rintik kecil di jendela, udara basah yang membawa bau tanah. Dan entah mengapa, saya merasakan sesuatu di ujung lidah—bukan rasa ketoprak itu sendiri, karena saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali makan ketoprak. Tapi idea dari rasa itu. Bayangan dari sesuatu yang pernah akrab, yang pernah rutin, yang pernah menjadi bagian dari ritme hidup tanpa perlu dipikirkan.
Tulisan itu menggetarkan sesuatu. Bukan karena dramatis atau sensasional. Justru karena sangat tenang, sangat diam, sangat hadir—seperti Mamang yang digambarkan di dalamnya. Dan dalam ketenangan itu, saya menemukan pertanyaan yang lebih besar: Apa yang membuat sesuatu yang begitu biasa—penjual ketoprak keliling, hujan sore, bumbu yang ditumbuk—bisa begitu mendalam?
Mungkin karena di zaman ini, yang biasa sudah menjadi langka. Yang rutin sudah menjadi asing. Yang konsisten sudah menjadi anomali.
Anatomi Keheningan: Ketika Gerobak Berbicara Lebih Keras dari Kata
Krek... krek...
Bunyi itu datang sebelum Mamang terlihat. Bunyi roda gerobak kayu menabrak batu di jalan gang. Dalam tulisan itu, bunyi ini menjadi semacam bahasa—lebih tua dari kata, lebih jujur dari kalimat. Saya tertarik pada pilihan penulis untuk memulai dengan suara, bukan dengan deskripsi visual atau dialog. Karena suara itu adalah signature. Identitas yang tidak bisa dipalsukan.
Ada sesuatu tentang komunikasi tanpa kata yang semakin langka di dunia kita. Kita hidup di zaman over-communication tapi under-presence. Kata-kata bertebaran di mana-mana—pesan teks, notifikasi, email, status media sosial—tapi berapa banyak dari komunikasi itu yang benar-benar hadir? Berapa banyak yang hanya noise, sinyal tanpa makna, kata tanpa bobot?
Mamang dalam tulisan itu hampir tidak berbicara. Ketika narator bertanya,
"Ada, Mang?"ia hanya mengangguk.
"Tak ada kata. Senyumnya tipis, hanya satu sisi bibir yang terangkat."Gerakannya tenang, pasti, tanpa perlu penjelasan. Ia tidak menjual dengan kata-kata. Ia tidak meyakinkan dengan promosi. Ia hadir, dan kehadirannya sudah cukup.
Saya teringat pada karakter-karakter dalam novel Haruki Murakami—bartender yang meracik whisky dengan diam, pengemudi taksi yang tahu jalan tanpa perlu ditanya, koki yang memasak dengan konsentrasi meditatif. Mereka semua berkomunikasi melalui craft mereka, melalui konsistensi, melalui kehadiran yang tidak perlu diumumkan. Ada martabat dalam keheningan semacam ini. Sebuah kepercayaan diri yang tidak perlu validasi eksternal.
Pertanyaan muncul: Berapa banyak dari kehadiran saya yang benar-benar hadir? Ketika saya bicara dengan seseorang, apakah saya benar-benar di sana, atau pikiran saya sudah loncat ke percakapan berikutnya, tugas berikutnya, notifikasi berikutnya? Apakah saya kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi melalui konsistensi—untuk membiarkan kehadiran saya, bukan kata-kata saya, yang berbicara?
Dalam tulisan itu, bunyi gerobak menjadi semacam janji. Setiap kali terdengar, itu adalah konfirmasi: Saya masih di sini. Saya masih melakukan ini. Anda masih bisa mengandalkan saya. Tanpa perlu diucapkan, tanpa perlu ditegaskan. Hanya bunyi roda di batu, berulang, konsisten, seperti detak jantung lingkungan itu.
Geografi Ingatan: Ragunan, Hujan, dan Topografi Rasa
Ragunan. Saya tidak pernah tinggal di Ragunan, tapi saat membaca deskripsi dalam tulisan itu, saya merasa pernah.
"Dari teras rumah di Ragunan, aku melihat aspal menggelap perlahan, genangan muncul seperti cermin kecil yang menampung langit kusam."Ini bukan sekadar deskripsi lokasi. Ini adalah pembangunan sense of place—tempat yang menjadi karakter, bukan hanya setting.
Penulis menggunakan detail sensorik dengan sangat deliberatif: bau logam basah bercampur tanah, daun jambu yang gemetar tiap kali angin datang, aspal yang menggelap perlahan. Semua ini menciptakan apa yang dalam fenomenologi disebut lived space—ruang yang tidak netral, tapi terisi dengan pengalaman, memori, emosi. Ragunan dalam tulisan ini bukan sekadar alamat geografis. Ia adalah home dalam pengertian yang lebih dalam—tempat di mana tubuh mengingat, di mana kebiasaan terendapkan, di mana waktu bergerak dengan ritme tertentu.
Hujan memainkan peran penting di sini. Hujan memperlambat waktu, menciptakan semacam threshold antara dunia luar dan dunia dalam. Saat hujan turun, orang cenderung menarik diri, masuk ke dalam rumah, masuk ke dalam diri. Dan dalam penarikan diri itu, memori muncul. Bau hujan—yang dalam tulisan itu disebut sebagai "bau yang memanggil kenangan tanpa suara"—adalah trigger involunter. Seperti madeleine-nya Marcel Proust, tapi versi Indonesia. Versi yang lebih kasar, lebih basah, lebih dekat dengan tanah.
Saya pernah membaca tentang konsep genius loci—jiwa atau karakter dari suatu tempat. Setiap tempat punya atmosfer uniknya sendiri, semacam kepribadian yang dibentuk oleh geografi, cuaca, arsitektur, dan orang-orang yang menghuni atau melewatinya. Ragunan dalam tulisan ini memiliki genius loci yang jelas: tenang, sedikit melankolis, basah, dipenuhi oleh bunyi-bunyi kecil—gerobak, rintik hujan, gemerisik daun. Tempat di mana hal-hal bergerak pelan, di mana tidak ada yang mendesak.
Ada kontras implisit di sini dengan kota besar pada umumnya—Jakarta yang keras, cepat, tidak sabar. Tapi Ragunan, setidaknya dalam narasi ini, menjadi kantong kecil di mana waktu masih bergerak dengan cara yang lebih manusiawi. Di mana masih ada ruang untuk menunggu, untuk memperhatikan, untuk mendengar bunyi gerobak dari kejauhan.
Pertanyaan yang muncul: Apakah saya punya tempat semacam ini? Tempat yang benar-benar membentuk saya, yang tubuh saya ingat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan? Atau apakah saya sekadar melewati ruang-ruang tanpa benar-benar menghuni mereka? Apartemen yang bisa diganti, kantor yang bisa dipindah, kafe yang bisa disubstitusi—semua fungsional tapi tidak meaningful, semua nyaman tapi tidak home.
Dalam era mobilitas tinggi, kita kehilangan koneksi dengan tempat. Kita menjadi nowhere people—ada di mana-mana tapi tidak benar-benar berada di mana pun. Dan dalam kehilangan itu, kita juga kehilangan jangkar memori. Karena memori tidak hanya tersimpan dalam kepala—ia tersimpan dalam tempat, dalam bau, dalam sudut jalan, dalam suara yang familiar.
Epistemologi Kacang Sangrai: Pengetahuan yang Ditumbuk, Bukan Dipelajari
"Jangan lihat warna. Tunggu sampai baunya keluar."
Ini adalah satu-satunya dialog langsung dari Mamang yang dikutip dalam tulisan. Dan kalimat ini, meskipun sederhana, mengandung filosofi yang dalam tentang jenis pengetahuan tertentu—pengetahuan yang tidak bisa dipelajari dari buku, tidak bisa diajarkan secara verbal, hanya bisa dipahami melalui pengalaman langsung dan berulang.
Filsuf Michael Polanyi menyebutnya tacit knowledge—pengetahuan diam yang kita miliki tapi tidak bisa sepenuhnya diartikulasikan. Seperti cara kita mengendarai sepeda, cara kita mengenali wajah seseorang, atau dalam kasus Mamang, cara mengetahui kapan kacang sudah sangrai sempurna. Ini adalah pengetahuan yang tersimpan dalam tubuh, dalam muscle memory, dalam indera yang telah terasah melalui ribuan pengulangan.
Penulis menggambarkan kacang yang digoreng "nyaris terlalu lama":
"Bagian luarnya menghitam sedikit, tapi tidak gosong. Hanya cukup untuk meninggalkan rasa sangrai yang tajam—gurih yang diakhiri pahit tipis di ujung lidah."Ini bukan kesalahan. Ini adalah pilihan. Pilihan yang membutuhkan keberanian—untuk mendekati batas, untuk mengambil risiko gosong, untuk tahu persis kapan harus berhenti.
Ada sesuatu yang sangat craftsman-like dalam pendekatan ini. Dalam bahasa Jepang, ada istilah shokunin—seseorang yang menguasai craft-nya dengan dedikasi yang hampir spiritual. Shokunin tidak hanya melakukan pekerjaan untuk hasil akhir, tapi untuk proses itu sendiri. Untuk menyempurnakan setiap gerakan, setiap detail, setiap nuansa. Mamang, dalam tulisan ini, adalah shokunin ketoprak.
Kontras yang menarik muncul ketika penulis membandingkan dengan ketoprak hotel:
"Mahal, bersih, bumbunya licin dan manis, terlalu manis. Tapi rasanya seperti orang asing yang berpura-pura akrab."Ketoprak hotel adalah produk yang telah di-standardize, di-smooth-kan, disesuaikan dengan ekspektasi umum tentang apa yang "enak". Tapi dalam proses standardisasi itu, sesuatu hilang. Keunikan, karakter, kejujuran.
Bumbu Mamang tidak halus.
"Masih ada serpih-serpih kacang yang menyelip di sela gigi dan langit-langit mulut."Dan penulis menegaskan: Itu bukan kesalahan. Itu napas. Ini adalah pengakuan bahwa imperfeksi—atau lebih tepatnya, ketidakhalusan—adalah bagian integral dari keaslian. Bahwa dalam upaya untuk membuat semuanya sempurna dan smooth, kita sebenarnya menghilangkan apa yang membuat sesuatu real.
Saya teringat pada esai Dee Lestari tentang wabi-sabi—estetika Jepang yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, dalam keausan, dalam hal-hal yang tidak lengkap. Dalam budaya kita yang terobsesi dengan perfection—foto yang di-filter, kehidupan yang di-curate, presentasi yang di-polish—ada sesuatu yang radikal dalam menerima kekasaran sebagai bentuk kejujuran.
Mamang tidak pernah menggunakan blender. Ia menggunakan cobek dan tangan. Proses yang lebih lambat, lebih melelahkan, tapi menghasilkan tekstur yang tidak bisa ditiru oleh mesin. Karena mesin membuat semuanya uniform. Tangan manusia membuat setiap tumbukan sedikit berbeda, memberi variasi halus yang membuat rasa menjadi kompleks.
Pertanyaan reflektif: Apa yang saya "tumbuk" dalam hidup saya? Apakah saya masih punya hubungan dengan proses, atau saya hanya peduli pada hasil? Apakah saya masih bersedia untuk melakukan hal-hal secara lambat, manual, dengan tangan sendiri—atau saya selalu mencari jalan pintas, otomasi, efisiensi maksimal?
Ada jenis kepuasan yang hanya bisa datang dari proses yang deliberatif. Dari melakukan sesuatu dengan tangan sendiri, dari merasakan material, dari membuat kesalahan dan belajar dari sensasi. Kepuasan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa di-outsource, tidak bisa digantikan oleh aplikasi.
Pahit di Ujung Lidah: Estetika Imperfeksi dan Kejujuran Rasa
Ada momen dalam tulisan di mana narator mendeskripsikan rasa dengan presisi yang hampir puitis:
"Rasa pertama: lembut, gurih, lalu pahit tipis datang diam-diam. Kecap tak mengambil alih, hanya menjembatani."Ini adalah pemetaan rasa yang sangat layered—tidak flat, tidak satu dimensi, tapi memiliki progression, ada narasi dalam setiap suapan.
Yang paling menarik bagi saya adalah kehadiran "pahit tipis" itu. Pahit dalam konteks kuliner Indonesia sering dianggap sebagai off-note, sesuatu yang harus diminimalisir atau dihilangkan. Kita lebih suka manis, gurih, pedas—rasa-rasa yang langsung menyenangkan. Tapi pahit membutuhkan perhatian. Ia tidak langsung disukai. Ia harus dipahami, diapresiasi, diberi ruang untuk eksis.
Dalam konsep umami—rasa kelima yang diakui oleh ilmu pengetahuan—ada ide tentang kompleksitas rasa yang tidak bisa langsung diidentifikasi tapi membuat keseluruhan hidangan menjadi lebih dalam, lebih memuaskan. Pahit tipis dalam ketoprak Mamang berfungsi serupa. Ia adalah kompleksitas, kedalaman, bass note yang membuat harmoni rasa menjadi utuh.
Kontras dengan ketoprak hotel yang "terlalu manis" adalah kritik halus terhadap kecenderungan modern untuk membuat segalanya palatable, inoffensive, aman. Manis adalah rasa yang universal disukai. Tapi ketika semuanya manis, tidak ada kontras. Tidak ada ketegangan. Tidak ada drama. Rasa menjadi datar, meskipun menyenangkan.
Saya teringat pada novel-novel Haruki Murakami, di mana selalu ada unsur mono no aware—kesedihan ringan, melankolia yang tipis tapi persisten. Bukan kesedihan yang dramatis atau traumatis, tapi kesadaran akan impermanensi, akan kehilangan yang tak terhindarkan, akan fakta bahwa semua hal indah pada akhirnya akan berakhir. Dan justru kesadaran ini yang membuat keindahan menjadi lebih dalam, lebih bermakna.
Pahit tipis dalam ketoprak Mamang adalah mono no aware dalam bentuk kuliner. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua hal dalam hidup manis. Bahwa ada dimensi lain—kerja keras, usia, keausan—yang juga hadir dan harus diakui. Dan pengakuan itu bukan depresi. Itu kejujuran.
Dee Lestari pernah menulis tentang bagaimana keindahan sejati selalu mengandung unsur rapuh, tidak lengkap, atau bahkan sedikit rusak. Karena kesempurnaan yang absolut adalah steril—ia tidak memiliki story, tidak memiliki sejarah, tidak memiliki jiwa. Sedangkan yang retak, yang aus, yang tidak sempurna—ia membawa jejak waktu, jejak penggunaan, jejak kehidupan yang telah dijalani.
Ketika saya membaca bagian tentang tekstur kasar bumbu yang menyelip di gigi, saya tidak merasakannya sebagai keluhan. Justru sebagai undangan—untuk memperlambat, untuk memperhatikan, untuk engage dengan makanan bukan sebagai bahan bakar tapi sebagai pengalaman. Serpihan itu adalah pengingat bahwa ini bukan produk pabrik. Ini dibuat oleh tangan, dengan segala keterbatasan dan keunikan tangan manusia.
Pertanyaan yang muncul: Dalam aspek hidup saya, di mana saya terlalu mengejar "manis"? Di mana saya menghindari "pahit" padahal pahit itu adalah bagian dari kompleksitas yang membuat hidup utuh? Apakah dalam relasi, di mana saya hanya ingin momen-momen menyenangkan tanpa mau menghadapi konflik atau ketidaknyamanan? Apakah dalam pekerjaan, di mana saya hanya ingin hasil tanpa mau melalui proses yang sulit?
Ada kearifan dalam menerima pahit. Bukan masokisme, tapi pengakuan realistis bahwa kehidupan yang penuh—yang bermakna—tidak hanya terdiri dari momen-momen manis. Bahwa depth datang dari full spectrum pengalaman, termasuk yang tidak nyaman.
Bayangan yang Menghilang: Impermanensi dan Yang Bertahan
Akhir dari tulisan itu sederhana tapi menghantui:
"Ia selesai beres-beres. Mengangguk lagi. Lalu mendorong gerobaknya pelan-pelan, menyatu dalam kabut dan hujan. Aku mengunyah suapan terakhir perlahan, sambil memperhatikan bayangan tubuhnya mengecil, hilang di balik tikungan."
Tidak ada drama. Tidak ada goodbye yang formal. Hanya menghilang—seperti semua hal pada akhirnya menghilang. Dan dalam kesederhanaan itu, ada sesuatu yang sangat mendalam tentang impermanensi.
Dalam Buddhisme, konsep anicca atau impermanensi adalah salah satu kebenaran fundamental tentang realitas. Tidak ada yang tetap. Tidak ada yang kekal. Semua hal—benda, orang, perasaan, situasi—terus berubah, terus bergerak menuju ketiadaan. Ini bisa terdengar pesimistis, tapi sebenarnya ini adalah ajakan untuk appreciate apa yang ada sekarang, karena "sekarang" ini tidak akan pernah kembali dengan cara yang persis sama.
Mamang dalam tulisan itu sudah bertahan dua puluh tujuh tahun. Dua puluh tujuh tahun menjual ketoprak di rute yang sama, dengan rasa yang sama. Itu adalah pencapaian yang luar biasa dalam dunia yang terobsesi dengan perubahan, dengan inovasi, dengan "disruption". Tapi pada saat yang sama, kita tahu—meskipun tidak dikatakan eksplisit—bahwa suatu hari Mamang tidak akan lagi mendorong gerobak itu. Entah karena usia, sakit, atau kematian. Gerobak akan berhenti. Bunyi krek... krek... akan hilang dari soundscape Ragunan.
Dan apa yang akan tetap? Memori. Rasa yang tersimpan tidak di lidah tapi di suatu tempat yang lebih dalam—di asosiasi neurologis antara hujan dan kacang sangrai, antara sore hari dan bunyi gerobak, antara Ragunan dan sensasi pulang ke rumah.
Dalam budaya Jepang, ada konsep mono no aware yang saya sebutkan sebelumnya—"the pathos of things" atau kesadaran emosional akan impermanensi. Ini bukan kesedihan yang melumpuhkan, tapi semacam melankolia yang lembut, pengakuan bahwa karena semua hal tidak kekal, maka semua hal menjadi lebih berharga. Bunga sakura indah bukan meskipun ia layu dengan cepat, tapi justru karena ia layu dengan cepat. Keindahannya tidak terpisahkan dari kefanaannya.
Mamang yang menghilang di balik tikungan, menyatu dengan kabut dan hujan—ini adalah visualisasi sempurna dari mono no aware. Tidak dramatis, tidak tragis, hanya... menghilang. Dan dalam penghilangan itu, ada keindahan yang aneh. Keindahan dari hal-hal yang tidak bertahan selamanya, tapi while it lasted, ia hadir dengan sepenuhnya.
Haruki Murakami sering menulis tentang kehilangan dan tindakan mengingat. Karakter-karakternya terus-menerus mengingat orang-orang yang sudah tidak ada lagi dalam hidup mereka—kekasih lama, teman yang hilang, versi diri yang sudah berlalu. Dan dalam pengingatan itu, ada semacam kesetiaan. Kesetiaan pada apa yang pernah ada, pengakuan bahwa meskipun sesuatu sudah hilang, ia pernah matter. Ia pernah nyata. Ia pernah membentuk kita.
Narator dalam tulisan itu tidak tahu nama Mamang.
"Tak ada nama yang kutahu. Tak pernah aku tanya."Tapi ketiadaan nama bukan berarti ketiadaan koneksi. Justru sebaliknya—ada intimasi dalam ketidaktahuan formal ini. Mamang tidak perlu nama karena ia dikenal melalui rasa, melalui konsistensi, melalui kehadiran. Ia bukan profil di media sosial dengan bio yang lengkap. Ia adalah sensasi, ritme, bagian dari fabric kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan yang muncul: Siapa yang akan menghilang dari hidup saya? Dan ketika mereka menghilang, apa yang akan tersisa? Apakah saya cukup hadir untuk menciptakan memori yang akan bertahan? Atau apakah saya hidup dengan autopilot, melewati orang-orang dan momen-momen tanpa benar-benar imprint mereka dalam diri saya?
Dan pertanyaan yang lebih menakutkan: Apa yang ingin saya tinggalkan? Nama atau rasa? Legacy besar yang terukur dan tercatat, atau jejak kecil yang intimate—sensasi, kebiasaan, kehadiran yang reliable dalam kehidupan orang lain?
Mamang tidak akan masuk buku sejarah. Tidak akan ada artikel tentangnya di koran. Tapi bagi narator—dan mungkin bagi puluhan atau ratusan orang lain di sepanjang rutenya—Mamang adalah sejarah. Sejarah personal, sejarah yang tidak tertulis tapi terasa, yang tidak terdokumentasi tapi tetap real.
Ritual Sore dan Liturgi Ketupat: Yang Sakral dalam Yang Biasa
Ada ritualitas dalam cara Mamang bekerja yang digambarkan dengan sangat hati-hati oleh penulis.
"Tudung saji dibuka. Ketupat, tahu, bihun, toge, dan... Panci alumunium berisi kacang tanah. Tangannya mengambil kacang itu dan memasukkannya ke dalam cobek batu besar, lalu mulai menumbuk. Duk... duk... duk..."
Ini bukan sekadar deskripsi prosedural. Ini adalah penggambaran ritual—urutan tindakan yang telah dilakukan ribuan kali, yang tubuh sudah hapal di luar kepala, yang memiliki irama dan flow sendiri. Duk... duk... duk... seperti mantra, seperti denyut, seperti heartbeat dari proses itu sendiri.
Antropolog Mircea Eliade membedakan antara waktu sakral dan waktu profan. Waktu profan adalah waktu linear, waktu jam dinding, waktu produktivitas dan efisiensi. Waktu sakral adalah waktu ritual—waktu yang cyclical, yang berulang, yang menciptakan koneksi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri. Dalam masyarakat modern yang sekuler, kita kehilangan akses ke waktu sakral. Semua menjadi profan, semua menjadi transaksional.
Tapi ritual Mamang—meskipun ia mungkin tidak menyebutnya demikian—menciptakan kantong kecil waktu sakral. Setiap kali ia membuka tudung saji, menumbuk kacang, menyajikan ketoprak, ia tidak hanya melakukan pekerjaan. Ia melakukan ritual yang menghubungkan hari ini dengan kemarin dan besok, yang menciptakan kontinuitas, yang memberi makna pada pengulangan.
Penulis menggambarkan cara Mamang menyajikan dengan "penghormatan":
"Kerupuk—merah muda, bergetar kecil terkena uap, diletakkan paling atas seperti semacam penghormatan."Kata "penghormatan" ini penting. Ini bukan sekadar menaruh kerupuk. Ini adalah act of reverence—menghormati material, menghormati proses, menghormati orang yang akan makan.
Dee Lestari pernah menulis tentang spiritualitas dalam gestur sehari-hari—bagaimana cara kita menyiapkan kopi, cara kita merapikan tempat tidur, cara kita menyapa orang—bisa menjadi praktek spiritual jika dilakukan dengan kesadaran penuh. Tidak perlu pergi ke tempat ibadah untuk menemukan yang sakral. Yang sakral bisa ditemukan dalam kitchen, di pinggir jalan, dalam hal-hal mundane jika kita approach dengan sikap yang tepat.
Mamang mendekati pekerjaannya dengan sikap semacam ini. Tidak terburu-buru, tidak asal-asalan, tidak sekadar untuk selesai. Setiap gerakan memiliki bobot, memiliki perhatian. Ini adalah cara ia mengatakan: Apa yang saya lakukan ini penting. Anda yang akan makan ini penting. Momen ini penting.
Saya teringat pada konsep Jepang tentang ichi-go ichi-e—"satu waktu, satu kesempatan." Ide bahwa setiap pertemuan adalah unik dan tidak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama, maka harus diperlakukan dengan kesadaran penuh dan apresiasi. Setiap kali Mamang menyajikan ketoprak, itu adalah ichi-go ichi-e. Meskipun ia telah melakukannya ribuan kali, kali ini adalah kali ini—unik, tidak dapat diulang, berharga.
Narator memiliki ritual sendiri juga—menunggu bunyi gerobak saat hujan, keluar dari teras, menyaksikan proses penyajian. Ada semacam liturgi dalam interaksi ini. Mamang dan narator tidak berbicara banyak, tapi mereka tahu peran masing-masing dalam ritual ini. Mamang menyajikan dengan penghormatan. Narator menerima dengan perhatian. Ada kesepakatan diam tentang makna dari transaksi ini—bahwa ini lebih dari sekadar jual-beli, ini adalah pertukaran kehadiran.
Pertanyaan reflektif: Ritual apa yang masih saya pegang? Atau apakah semua sudah menjadi autopilot, rutinitas kosong tanpa kesadaran? Ketika saya membuat kopi di pagi hari, apakah itu ritual atau sekadar kebiasaan mekanis? Ketika saya makan, apakah saya benar-benar merasakan makanan atau hanya mengisi perut sambil scroll media sosial?
Dalam budaya yang mengutamakan efisiensi, ritual sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Kenapa harus repot-repot membuat kopi manual kalau ada mesin yang lebih cepat? Kenapa harus makan dengan penuh perhatian kalau bisa multitasking? Tapi yang hilang dalam optimasi ini adalah makna. Adalah koneksi. Adalah kesempatan untuk hadir sepenuhnya dalam momen.
Ritual Mamang—menumbuk kacang dengan cobek, menyajikan dengan urutan tertentu, menutup hari dengan membersihkan gerobak—menciptakan struktur dalam chaos kehidupan. Memberi anchor. Memberi sense bahwa meskipun dunia berubah dengan cepat, ada sesuatu yang tetap, yang bisa diandalkan, yang memberi kontinuitas.
Genangan sebagai Cermin: Refleksi tentang Menulis Keseharian
Ada momen di awal tulisan yang saya terus kembali bacanya:
"Genangan muncul seperti cermin kecil yang menampung langit kusam."Ini adalah observasi yang sederhana—genangan air setelah hujan—tapi cara ia dideskripsikan membuka lapisan makna yang lebih dalam.
Genangan sebagai cermin. Cermin yang menampung langit. Ini adalah metafora yang sempurna untuk apa yang tulisan ini lakukan—menampung keseharian, merefleksikannya, dan dalam refleksi itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Langit yang kusam menjadi indah ketika dipantulkan dalam genangan. Keseharian yang biasa menjadi profound ketika ditulis dengan perhatian.
Saya mulai bertanya: Mengapa tulisan tentang penjual ketoprak keliling bisa begitu kuat? Apa yang membuat subjek yang begitu ordinary menjadi begitu resonan?
Jawabannya, saya pikir, terletak pada attention. Pada kualitas perhatian yang penulis berikan pada subjeknya. Ia tidak memperlakukan Mamang sebagai karakter eksotis atau objek nostalgia sentimentil. Ia melihat Mamang—benar-benar melihat—dengan semua detail kecil yang orang lain mungkin lewatkan: cat yang mengelupas di sisi kanan gerobak, satu sisi bibir yang terangkat saat senyum, sedikit lengkung di punggung.
Virginia Woolf pernah menulis tentang "moments of being"—momen-momen dalam kehidupan biasa di mana tiba-tiba kita menjadi sangat sadar, sangat hadir, dan dalam kesadaran itu kita melihat sesuatu yang biasanya tersembunyi. Kebanyakan waktu kita hidup dalam "cotton wool" of daily life—melakukan hal-hal tanpa benar-benar memperhatikan, dalam autopilot, tertutup dari realitas langsung. Tapi kadang-kadang, cotton wool itu terbuka, dan kita mengalami realitas dengan intensitas yang luar biasa.
Tulisan "Ketoprak Mamang" adalah dokumentasi dari moment of being semacam itu. Narator tidak hanya membeli ketoprak—ia mengalami seluruh moment dengan kesadaran yang heightened. Setiap detail terekam, setiap sensasi dirasakan, setiap gesture dipahami dalam konteks yang lebih luas.
Dan dalam penulisan itu, penulis mengundang kita untuk mengalami moment yang sama. Untuk memperlambat, untuk memperhatikan, untuk melihat kedalaman dalam apa yang tampak sederhana. Ini adalah fungsi tertinggi dari seni—bukan untuk menunjukkan hal-hal yang spektakuler, tapi untuk membuat kita melihat ulang hal-hal yang familiar dengan mata yang fresh.
Gaya penulisan yang digunakan sangat deliberatif—kalimat-kalimat yang pendek dan rytmis diselingi dengan kalimat yang lebih panjang dan mengalir, menciptakan musik dalam prosa. Ada perhatian pada bunyi: "Duk... duk... duk..." "Krek... krek..." Onomatopoeia ini bukan sekadar efek—ia membawa kita ke dalam soundscape dari pengalaman itu.
Penulis juga menggunakan present tense untuk sebagian besar narasi, yang menciptakan sense of immediacy. Kita tidak mendengar cerita tentang sesuatu yang terjadi di masa lalu—kita mengalaminya sekarang, dalam momen. Ini adalah teknik yang sering digunakan Haruki Murakami, menciptakan efek dreamlike di mana past dan present blur together.
Yang paling mengesankan adalah restraint—apa yang tidak dikatakan. Penulis tidak menjelaskan secara eksplisit mengapa Mamang begitu penting bagi narator. Tidak ada backstory yang elaborate. Tidak ada reveal dramatis. Hanya hadir, mengamati, merasakan. Dan dalam restraint itu, ada kepercayaan pada kecerdasan pembaca—kepercayaan bahwa pembaca bisa merasakan significance tanpa perlu diceramahi.
Dee Lestari pernah berkata bahwa seni bukan tentang subject, tapi tentang bagaimana kita melihat. Anda bisa menulis tentang hal yang paling mundane—mencuci piring, menunggu bus, membeli makanan—dan jika Anda melihat dengan benar, dengan perhatian penuh, Anda akan menemukan seluruh universe dalam momen itu. Making the familiar strange, making the strange familiar.
Pertanyaan yang muncul untuk saya sebagai pembaca dan penulis: Apa yang saya lewatkan dalam hidup saya karena tidak cukup memperhatikan? Berapa banyak "Mamang" dalam hidup saya yang hadir dengan setia tapi saya anggap begitu saja? Tukang ojek langganan, penjaga parkir, barista di kafe—orang-orang yang hadir konsisten dalam kehidupan saya tapi saya tidak pernah benar-benar lihat.
Dan sebagai orang yang menulis atau ingin menulis: Apakah saya punya keberanian untuk menulis tentang hal-hal biasa? Atau saya merasa harus menulis tentang hal-hal "penting" atau "menarik" untuk dianggap serius?
Tulisan ini mengingatkan bahwa tidak ada subjek yang inherently tidak menarik. Hanya ada perhatian yang kurang. Hanya ada melihat tanpa benar-benar melihat. Dan bahwa tugas penulis—atau lebih luas lagi, tugas manusia yang ingin hidup dengan penuh—adalah untuk cultivate quality of attention yang membuat ordinary menjadi extraordinary.
Suapan Terakhir dan Yang Tertinggal di Langit-Langit
Hujan masih turun. Genangan di jalan semakin lebar, memantulkan cahaya dari lampu rumah seperti api kecil yang jauh. Saya menutup laptop setelah membaca tulisan tentang Mamang untuk ketiga kalinya. Setiap kali membaca, saya menemukan lapisan baru, detail kecil yang terlewat sebelumnya, resonansi yang lebih dalam.
Ini adalah ciri dari tulisan yang baik—ia tidak habis dalam satu pembacaan. Seperti rasa ketoprak Mamang yang kompleks, dengan pahit tipis di ujung lidah, tulisan ini memiliki aftertaste. Sesuatu yang tetap setelah kata-kata berhenti, yang terus bergema dalam diri.
Saya mencoba mengidentifikasi apa yang membuat tulisan ini begitu menempel. Bukan plotnya—tidak ada plot dalam pengertian konvensional. Tidak ada konflik dramatis, tidak ada resolusi yang jelas. Hanya momen: hujan, gerobak, kacang ditumbuk, suapan, bayangan menghilang.
Tapi dalam kesederhanaan itu, ada sesuatu yang universal. Kita semua punya "Mamang" kita sendiri—orang, tempat, atau momen yang membentuk fabric kehidupan kita tanpa kita sadari. Yang hadir konsisten hingga kehadiran mereka menjadi invisible, taken for granted. Dan baru ketika mereka hilang—atau dalam kasus tulisan ini, ketika kita dipaksa untuk benar-benar memperhatikan mereka—kita menyadari betapa pentingnya mereka.
"Tak ada nama yang kutahu. Tak pernah aku tanya. Tapi rasanya, sejak dulu, tak pernah pergi."
Kalimat penutup ini menggantung di udara seperti rasa pahit di ujung lidah. "Tak pernah pergi"—bukan dalam pengertian literal, karena Mamang tentu pergi setiap kali selesai jualan. Tapi dalam pengertian yang lebih dalam: rasa, kehadiran, significance—tidak pernah pergi. Tertanam dalam tubuh, dalam memori yang lebih dalam dari ingatan verbal.
Ini adalah jenis keabadian yang berbeda dari yang biasanya kita kejar. Bukan nama yang tercatat dalam sejarah, bukan prestasi yang diingat generasi, tapi jejak yang intimate, personal, yang tidak terukur tapi sangat real. Keabadian dalam rasa, dalam sensasi yang triggered oleh hujan atau bau tertentu, dalam memori yang muncul tanpa dipanggil.
Saya teringat pada konsep Buddhis tentang sankhara—formasi mental, pola, kebiasaan yang terbentuk melalui pengalaman berulang. Setiap kali narator makan ketoprak Mamang, sebuah sankhara terbentuk atau diperkuat—asosiasi antara hujan dan kacang sangrai, antara sore hari dan bunyi gerobak, antara Ragunan dan sensasi pulang. Dan sankhara-sankhara ini, meskipun tidak terlihat, membentuk siapa kita. Mereka adalah infrastructure dari identitas kita.
Mamang, tanpa tahu, telah menjadi bagian dari infrastructure identitas narator. Dan mungkin puluhan atau ratusan orang lain. Ia tidak famous, tidak celebrated, tapi ia matter—dalam cara yang paling fundamental, paling intimate.
Pertanyaan terakhir yang menggantung: Bagaimana saya ingin matter dalam hidup orang lain? Melalui achievement yang besar dan terukur, atau melalui kehadiran yang konsisten dan dapat diandalkan? Apakah saya ingin diingat karena apa yang saya capai, atau karena bagaimana saya hadir?
Tidak ada jawaban yang salah. Tapi tulisan ini menawarkan perspektif alternatif—bahwa ada nilai yang profound dalam being the constant. Dalam menjadi bunyi gerobak yang bisa diandalkan, dalam menjadi rasa yang tidak pernah berubah, dalam menjadi bayangan yang familiar di sore hari yang hujan.
Haruki Murakami sering menulis tentang karakter-karakter yang melakukan hal-hal kecil dengan dedikasi yang luar biasa—bartender yang sempurna dalam meracik drink, penerjemah yang obsesif dengan presisi, pelari yang lari setiap pagi tanpa gagal. Dan dalam dedikasi pada hal-hal kecil ini, mereka menemukan sesuatu yang lebih besar—purpose, identity, way of being in the world. Mamang adalah karakter semacam itu. Ia melakukan satu hal, dengan sangat baik, dengan sangat konsisten, dan dalam doing that one thing, ia menjadi signifikan.
Dee Lestari pernah menulis tentang how we are all cosmic dust that somehow arranged itself into consciousness, into awareness. Dan dalam awareness ini, kita punya pilihan: apakah kita akan melewati hidup dalam autopilot, atau kita akan hadir dengan penuh? Apakah kita akan melakukan hal-hal secara asal-asalan, atau kita akan memberikan perhatian penuh bahkan pada hal-hal yang tampak kecil?
Mamang memilih untuk hadir. Untuk memberikan perhatian. Untuk menumbuk kacang dengan cobek meskipun ada blender. Untuk sangrai kacang hingga nyaris terlalu lama karena di situlah rasa terbaik. Untuk menyajikan dengan penghormatan meskipun pembeli mungkin tidak akan notice. Dan dalam pilihan-pilihan kecil ini, yang diulang setiap hari selama dua puluh tujuh tahun, ia menciptakan sesuatu yang bermakna.
Saya duduk di meja, mendengar hujan, dan merasa sesuatu bergeser dalam diri. Bukan epifani yang dramatis. Hanya semacam... pengingat. Bahwa hidup yang bermakna tidak harus berarti hidup yang spektakuler. Bahwa ada jenis kebesaran dalam konsistensi. Bahwa presence adalah gift yang paling underrated yang bisa kita berikan.
Serpihan kacang masih menyelip di langit-langit mulut saya—bukan secara literal, tentu, karena saya tidak makan ketoprak hari ini. Tapi secara metaforis. Sesuatu dari tulisan itu menempel, kasar dan persistent, refusing to be smooth away. Dan saya tidak ingin mengeluarkannya. Saya ingin membiarkannya di sana, pengingat kecil untuk memperhatikan, untuk hadir, untuk menghargai hal-hal yang ordinari.
Bayangan Mamang menghilang di balik tikungan, menyatu dengan kabut dan hujan. Tapi rasanya—kompleks, jujur, dengan pahit tipis di ujung lidah—tetap. Dan akan tetap. Karena beberapa hal, beberapa orang, beberapa momen, sekali mereka benar-benar dirasakan, tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka menjadi bagian dari kita. Tertumbuk dalam diri kita. Seperti kacang dalam cobek, menjadi bumbu yang membentuk rasa hari-hari kita.
Genangan di jalan memantulkan langit yang mulai gelap. Hujan perlahan mereda. Dan di suatu tempat di Ragunan, mungkin, sebuah gerobak merah kusam sedang diparkir untuk malam ini. Dibersihkan dengan penuh perhatian. Dipersiapkan untuk besok. Konsisten. Tidak pernah berubah. Seperti selalu.
Tulisan ini adalah refleksi personal atas narasi "Ketoprak Mamang dan Bumbu yang Tak Pernah Berubah" yang mengeksplorasi tema-tema filosofis tentang kehadiran, keaslian, impermanensi, dan makna dalam keseharian. Sebagai pembaca, saya mencoba merefleksikan apa yang membuat tulisan sederhana tentang penjual ketoprak keliling bisa begitu resonan—dan apa yang bisa kita pelajari tentang cara kita sendiri hadir di dunia.

Comments