Membaca "Kafka di Ruang Tunggu": Ketika Biografi Menjadi Cermin Pengalaman Sendiri
Bagian 1: Pertemuan dengan Teks dan Ruang Tunggu
Pertemuan Pertama dengan Teks
Sore itu, saya menemukan tulisan ini secara tidak sengaja—atau mungkin tidak ada yang benar-benar tidak sengaja dalam dunia algoritma yang mengenal kita lebih baik dari yang kita kenal diri sendiri. Judul "Kafka di Ruang Tunggu" muncul di layar ponsel saya, dan saya mengklik tanpa ekspektasi khusus. Saya sedang mencari referensi tentang biografi Franz Kafka untuk sebuah proyek tulisan, sesuatu yang faktual dan efisien—tanggal lahir, karya utama, mungkin beberapa kutipan terkenal yang bisa saya gunakan.
Yang saya dapatkan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
Baris pertama langsung menangkap saya seperti tangan yang menarik lengan baju di keramaian:
"Saya sudah duduk di kursi plastik ini selama tiga jam, dan saya masih tidak tahu kesalahan apa yang saya lakukan."
Saya berhenti scrolling. Ini bukan pembukaan biografi yang biasa. Tidak ada "Franz Kafka lahir pada 3 Juli 1883 di Praha." Tidak ada pengenalan formal yang kering dan penuh tanggal. Yang ada adalah seseorang—penulis, narator, pembaca lain seperti saya—yang sedang duduk di ruang tunggu, bingung, menunggu sesuatu yang tidak jelas.
Ekspektasi saya tentang sebuah artikel biografi langsung runtuh. Ini bukan ensiklopedia. Ini bukan bahkan esai akademik yang terselubung sebagai artikel blog. Ini adalah... apa? Sebuah cerita? Sebuah refleksi? Sebuah undangan?
Saya membaca di kamar kos saya, malam sudah larut, lampu meja menciptakan lingkaran cahaya kuning yang sempit. Di luar jendela, kota masih berisik dengan suara motor dan penjual nasi goreng keliling. Tapi begitu saya tenggelam dalam teks ini, semua suara itu menjauh. Saya tidak lagi duduk di kamar kos—saya duduk di kursi plastik di ruang tunggu itu, menatap layar elektronik yang menampilkan nomor 247 sementara nomor saya adalah 283.
Apakah saya pernah di sana? Tentu saja. Siapa yang belum? Ruang tunggu kantor kelurahan untuk mengurus KTP. Ruang tunggu rumah sakit untuk hasil lab. Ruang tunggu bank untuk masalah kartu yang terblokir. Selalu ada kursi plastik. Selalu ada nomor antrean. Selalu ada perasaan samar: kenapa saya harus di sini? Apa yang sebenarnya sedang diproses?
Dan di situlah saya menyadari: penulis tidak sedang menulis biografi Franz Kafka dalam pengertian konvensional. Penulis sedang mengajak saya untuk merasakan apa artinya hidup seperti Kafka—terjebak dalam sistem yang tidak bisa dijelaskan, menunggu keputusan dari otoritas yang tidak terlihat, merasa bersalah tanpa tahu apa kesalahannya.
Ini adalah biografi sebagai pengalaman, bukan sebagai informasi. Dan saya, tanpa sadar, sudah setuju untuk ikut dalam perjalanan ini.
Memasuki Ruang Tunggu: Struktur yang Menghipnotis
Yang membuat saya terus membaca—dan ini penting untuk dipahami—adalah cara penulis menyusun struktur ganda yang begitu organik sehingga hampir tidak terlihat sebagai teknik. Di satu sisi, ada "saya" yang duduk di ruang tunggu, memegang buku The Trial, menghitung nomor antrean. Di sisi lain, ada Franz Kafka: Praha, ayahnya, tuberkulosisnya, karya-karyanya yang tidak pernah selesai.
Tapi kedua sisi ini tidak terpisah. Mereka bercermin satu sama lain.
Ketika penulis menulis tentang nomor antrean yang tidak kunjung dipanggil, kemudian transisi ke Josef K. dalam The Trial yang ditangkap tanpa tahu kesalahannya—saya tidak merasakan lompatan yang kasar. Justru terasa seperti dua pengalaman yang sama, hanya dalam skala yang berbeda. Ruang tunggu di kantor pemerintahan adalah versi miniatur dari pengadilan Kafka yang tidak pernah terlihat tapi selalu hadir.
Saya membaca bagian ini:
"Di sudut ruangan, seorang ibu muda mencoba menenangkan bayinya yang rewel. Seorang lelaki tua membaca koran kemarin dengan konsentrasi berlebihan, seolah berita yang sudah basi itu menyimpan rahasia penting tentang nasibnya hari ini."
Detail-detail ini tidak perlu ada dalam sebuah biografi Kafka. Tapi keberadaan mereka membuat segalanya terasa nyata. Saya bisa melihat lelaki tua itu. Saya bisa mendengar bayi yang menangis. Dan justru karena detail-detail dunia nyata ini hadir, ketika penulis kemudian membawa saya ke dunia Kafka—Praha abad ke-19, apartemen keluarga yang sempit, kantor asuransi yang menindas—semua itu juga terasa nyata dengan cara yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya dari membaca biografi.
Lalu ada momen ketika penulis membuka buku The Trial di ruang tunggu itu:
"Di halaman pertama, seorang pria bernama Josef K. terbangun dan mendapati dirinya ditangkap. Ia tidak tahu apa kesalahannya. Tidak ada yang memberitahunya. Dan yang paling mengerikan: semua orang yang menangkapnya bersikap sangat profesional, sangat prosedural, sangat sopan."
Saya membaca kalimat terakhir itu dua kali. Sangat sopan. Ya, itulah yang paling mengerikan, bukan? Bukan kekejaman. Bukan kekerasan. Tapi kesopanan yang membeku, kesopanan yang mekanis, kesopanan yang tidak peduli pada manusia di baliknya tapi hanya pada prosedur yang harus dijalankan.
Saya teringat petugas di ruang tunggu yang pernah saya datangi, yang tersenyum ramah sambil mengatakan, "Maaf Pak, sistemnya sedang error. Bapak harus datang lagi besok." Senyum itu tidak jahat. Tapi juga tidak peduli. Senyum itu adalah bagian dari prosedur, seperti cap stempel atau tanda tangan di formulir.
Kafka memahami ini. Dan penulis tulisan ini juga memahami ini. Dan sekarang, duduk di kamar kos saya dengan cahaya lampu meja yang mulai membuat mata lelah, saya juga mulai memahami ini.
Kafka Pertama Kali: The Metamorphosis dan Saya yang Berusia Sembilan Belas Tahun
Kemudian penulis membawa saya ke momen yang sangat pribadi:
"Pertama kali saya membaca Kafka, saya berusia sembilan belas tahun dan sedang menunggu hasil ujian yang akan menentukan apakah saya bisa melanjutkan kuliah atau tidak."
Di sini, struktur ganda itu melipat lagi. Sekarang bukan hanya "saya di ruang tunggu sekarang" dan "Kafka di masa lalunya," tapi juga "penulis di masa lalunya ketika pertama kali membaca Kafka." Tiga lapisan waktu yang saling berbicara.
Dan saya langsung terhubung karena saya juga punya "Kafka pertama kali" saya sendiri. Bukan The Metamorphosis, tapi The Castle. Saya membacanya saat skripsi saya macet—buntu total, dosen pembimbing terus meminta revisi yang sepertinya tidak ada ujungnya, dan saya mulai merasa seperti K. yang mencoba masuk ke kastil tapi setiap jalan berbelok ke arah yang salah.
Penulis menulis tentang membaca The Metamorphosis—cerita tentang Gregor Samsa yang berubah jadi serangga—dan apa yang mengejutkannya bukan transformasi itu sendiri, tapi reaksi keluarganya:
"Yang mengejutkan saya adalah reaksi keluarganya. Awalnya, mereka terkejut. Lalu kasihan. Lalu kesal, karena Gregor tidak lagi bisa pergi bekerja dan membayar utang-utang keluarga. Dan akhirnya, ketika ia mati—kurus kering, dilupakan, dikurung di kamarnya sendiri—mereka merasa lega."
Saya berhenti membaca di sini. Menatap layar ponsel yang cahayanya mulai menyakiti mata. Lalu saya meletakkan ponsel dan menatap langit-langit kamar kos yang ada retakan memanjang seperti peta sungai.
Penulis tidak menjelaskan makna ini secara eksplisit. Tidak ada kalimat "Ini menunjukkan bahwa..." atau "Kafka ingin mengatakan bahwa..." Yang ada adalah kalimat berikutnya:
"Saya ingat menutup buku itu dan menatap langit-langit kamar kos saya yang retak-retak. Di luar, suara motor dan pedagang keliling bercampur menjadi simfoni kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan saya berpikir: ini bukan cerita tentang serangga. Ini cerita tentang apa yang terjadi ketika kita berhenti menjadi berguna."
Ketika kita berhenti menjadi berguna.
Saya tidak pernah membaca The Metamorphosis dengan cara itu sebelumnya. Di kelas sastra dulu, kami membahasnya sebagai alegori alienasi modern, kritik terhadap kapitalisme, simbol kondisi manusia yang absurd. Semua interpretasi itu mungkin benar. Tapi yang penulis tangkap—dan yang sekarang saya rasakan dengan sangat personal—adalah ketakutan yang sangat manusiawi: bagaimana jika suatu hari saya tidak lagi bisa memberikan apa yang orang-orang harapkan dari saya? Bagaimana jika saya sakit, atau gagal, atau kehilangan kemampuan yang membuat saya "berguna"? Apakah orang-orang yang saya cintai akan tetap mencintai saya, atau mereka akan merasa lega ketika saya pergi?
Penulis tidak menjawab pertanyaan ini. Tapi dengan membiarkan pertanyaan itu menggantung—dengan membiarkan saya merasakan beratnya—penulis sudah membuat saya memahami Kafka dengan cara yang tidak bisa dicapai oleh sepuluh artikel biografi konvensional.
Praha: Kota Tiga Bahasa, Satu Keterasingan
Kemudian saya sampai di bagian tentang Praha, dan di sini penulis mulai memasukkan fakta-fakta biografis—tapi dengan cara yang tidak terasa seperti data.
"Franz Kafka lahir pada tanggal 3 Juli 1883, di Praha, sebuah kota yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria yang sedang sekarat."
Akhirnya, tanggal lahir. Tapi lihat konteksnya: bukan "lahir di Praha," tapi "lahir di Praha, sebuah kota yang merupakan bagian dari kekaisaran yang sedang sekarat." Satu kalimat, tapi sudah memberi saya gambaran tentang dunia yang tidak stabil, yang sedang berubah, yang tidak memberi kepastian.
Penulis menggambarkan Praha sebagai "labirin tiga bahasa"—Jerman, Ceko, Yiddish—dan Kafka tidak pernah benar-benar di rumah dalam salah satu dari ketiganya. Ini bukan sekadar fakta sejarah. Ini adalah kondisi eksistensial.
Saya mencoba membayangkan: bagaimana rasanya hidup di kota kelahiranmu sendiri tapi selalu merasa seperti orang asing? Berbicara bahasa yang bukan bahasa mayoritas. Menjadi bagian dari minoritas yang dicurigai. Tidak cukup Jerman untuk orang Jerman, tidak cukup Ceko untuk orang Ceko, tidak cukup Yahudi untuk komunitas Yahudi yang religius.
Tidak pas di mana-mana.
Dan tiba-tiba saya memahami kenapa Kafka menulis tentang orang-orang yang terbangun dan menemukan diri mereka sudah berubah, sudah ditangkap, sudah dianggap bersalah—tanpa penjelasan, tanpa alasan. Karena itulah yang Kafka rasakan setiap hari. Bersalah karena eksis. Bersalah karena lahir di tempat yang salah pada waktu yang salah dengan identitas yang salah.
Saya tidak lahir di Praha abad ke-19. Saya tidak pernah merasakan diskriminasi karena etnis atau agama. Tapi apakah saya pernah merasa tidak pas di mana-mana? Tentu. Terlalu "intelek" untuk teman-teman SMA dulu, terlalu "nggak gaul" untuk teman-teman kampus, terlalu idealis untuk dunia kerja, terlalu pragmatis untuk komunitas penulis. Selalu ada bagian dari diri yang harus disembunyikan, disesuaikan, dikompromikan.
Mungkin itulah kenapa Kafka masih relevan. Bukan karena kita semua hidup di kekaisaran yang runtuh atau menghadapi anti-Semitisme. Tapi karena kita semua pernah merasa seperti orang asing di suatu tempat yang seharusnya menjadi rumah kita.
Hermann Kafka: Ayah yang Menjadi Hantu dalam Setiap Halaman
Lalu saya sampai di bagian tentang ayah Kafka, dan di sini tulisan ini mengambil kedalaman yang berbeda—lebih gelap, lebih menyakitkan.
"Hermann Kafka adalah seorang pedagang yang sukses, seorang patriark dengan suara keras dan keyakinan yang tidak pernah goyah tentang bagaimana dunia seharusnya bekerja."
Penulis tidak langsung menghakimi Hermann sebagai "ayah yang jahat." Justru, ada nuansa yang sangat hati-hati di sini. Hermann digambarkan sebagai orang yang membangun bisnisnya dari nol, yang percaya pada kerja keras, yang hidup melalui nilai-nilai yang membuat dia bertahan hidup.
Tapi kemudian:
"...yang melihat putranya yang kurus dan pendiam dan pemalu sebagai kegagalan yang berjalan."
Satu kalimat. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Tapi saya merasakan beratnya.
Penulis menjelaskan bahwa Franz adalah anak laki-laki dalam keluarga yang kehilangan dua putra sebelumnya. Ini detail yang tidak sering disebutkan dalam biografi Kafka yang saya baca sebelumnya, tapi begitu saya tahu, segala sesuatu tentang hubungan Kafka dengan ayahnya menjadi lebih rumit. Kafka bukan hanya "anak yang mengecewakan"—dia adalah anak pengganti untuk dua anak yang mati. Bayangkan tekanan itu. Bayangkan harus hidup untuk tiga orang.
Dan dia gagal—setidaknya di mata ayahnya. Dia lemah, sakit-sakitan, lebih suka membaca daripada membantu di toko. Dia tidak menjadi penerus bisnis keluarga. Dia menjadi pegawai kantoran yang biasa-biasa saja dan menulis cerita-cerita aneh di malam hari yang tidak ada yang mau baca.
Penulis menulis:
"Hubungan antara ayah dan anak ini akan menghantui seluruh karya Kafka. Setiap figur otoritas dalam cerita-ceritanya—hakim yang tidak terlihat, pejabat yang tidak bisa ditemui, ayah yang menghakimi—adalah bayangan Hermann Kafka yang diperbesar hingga menjadi metafisika."
Metafisika. Kata yang tepat. Kafka mengubah traumanya yang sangat personal menjadi kondisi universal. Ayahnya yang spesifik menjadi Ayah dengan A besar—simbol untuk semua otoritas yang menghakimi, semua sistem yang menindas, semua suara yang mengatakan "kamu tidak cukup baik."
Saya memikirkan ayah saya sendiri. Kami tidak punya hubungan seperti Kafka dan Hermann—tapi apakah ada "Hermann Kafka" dalam hidup saya? Mungkin bukan ayah biologis, tapi suara-suara lain: dosen yang meremehkan, atasan yang tidak pernah puas, standar masyarakat yang tidak mungkin dicapai, atau bahkan suara saya sendiri yang paling keras menghakimi.
Kafka menulis untuk melawan suara-suara itu. Atau mungkin tidak "melawan"—kata yang terlalu aktif untuk Kafka. Dia menulis untuk mendokumentasikan, untuk bersaksi, untuk mengatakan: ini yang saya rasakan, dan ini tidak adil, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Surat yang Tidak Pernah Sampai
Dan kemudian saya sampai di bagian yang paling menyayat hati dalam tulisan ini: Letter to His Father.
"Pada November 1919, ketika Kafka berusia 36 tahun dan sudah didiagnosis tuberkulosis, ia menulis sebuah surat kepada ayahnya. Surat itu panjangnya 47 halaman."
47 halaman. Saya mencoba membayangkan: menulis 47 halaman untuk ayah sendiri. Apa yang bisa membutuhkan 47 halaman? Dan jawaban yang penulis berikan—melalui kutipan langsung dari surat Kafka—begitu sederhana dan begitu menghancurkan:
"Ayah tersayang, baru-baru ini Ayah bertanya mengapa saya mengatakan bahwa saya takut kepada Ayah."
Ayah bertanya. Dan Kafka mencoba menjawab. Sebanyak 47 halaman.
Penulis menjelaskan isi surat itu tanpa mengutip terlalu banyak—menjelaskan tentang masa kecil Kafka, ejekan ayahnya, penghancuran kepercayaan diri, keyakinan bahwa dia "secara fundamental salah sebagai manusia." Tapi yang membuat surat ini—dan cara penulis membawakan surat ini—begitu powerful adalah keadilannya.
"Yang luar biasa dari surat ini bukan amarahnya—meskipun ada amarah di sana. Yang luar biasa adalah keadilannya. Kafka terus-menerus mencoba melihat dari sudut pandang ayahnya, terus-menerus memberikan pembelaan untuk perilaku ayahnya."
Saya membaca bagian ini dan merasa ada yang mencengkram dada saya. Ini bukan surat kemarahan. Ini bukan surat pembalasan dendam. Ini adalah surat dari seseorang yang begitu desperate untuk dimengerti sehingga dia bahkan mencoba mengerti orang yang menyakitinya.
Dan yang paling tragis:
"Kafka memberikan surat itu kepada ibunya untuk diberikan kepada ayahnya. Ibunya tidak pernah menyampaikannya."
Tidak pernah sampai.
Penulis tidak menjelaskan mengapa ibu Kafka tidak menyampaikan surat itu. Mungkin dia tahu ayahnya tidak akan mengerti. Mungkin dia tahu itu akan memperburuk segalanya. Atau—dan ini yang paling menyakitkan—mungkin dia tahu bahwa surat itu tidak ditujukan untuk dibaca oleh ayahnya. Surat itu ditujukan untuk ditulis. Untuk dikeluarkan. Untuk ada.
Lalu penulis menulis kalimat yang membuat saya menutup ponsel dan duduk dalam kegelapan untuk beberapa menit:
"Kadang-kadang, surat yang paling penting adalah surat yang tidak pernah sampai."
Saya memikirkan semua hal yang tidak pernah saya katakan. Email yang saya tulis tapi tidak pernah kirim. Pesan WhatsApp yang saya ketik lalu hapus. Percakapan dalam kepala yang tidak pernah terjadi di dunia nyata. Semua "surat" yang tidak pernah sampai karena terlalu jujur, terlalu rentan, terlalu berisiko.
Apakah saya punya surat 47 halaman untuk seseorang? Mungkin. Mungkin kita semua punya.
Dan mungkin—seperti yang penulis isyaratkan tanpa mengatakannya secara langsung—menulis surat itu sendiri sudah cukup. Bukan untuk mengubah orang yang kita tulis. Bukan untuk mendapat pemahaman atau pengampunan. Tapi untuk bersaksi atas pengalaman kita sendiri. Untuk mengatakan: ini terjadi. Ini menyakitkan. Dan saya bertahan.
Saya mengambil napas panjang, membuka ponsel lagi, dan scroll ke bagian kedua. Nomor antrean di ruang tunggu masih belum sampai ke 283. Tapi saya tidak peduli lagi kapan giliran saya dipanggil. Saya ingin terus duduk di sini, di kursi plastik ini, membaca tentang Kafka yang duduk di kamarnya yang sempit di Praha, menulis sampai pukul tiga pagi, mencoba memahami kenapa dia merasa seperti orang asing di dunia yang seharusnya menjadi miliknya.
Karena dengan membaca tentang dia, saya mulai memahami sesuatu tentang diri saya sendiri. Dan bukankah itu yang dilakukan oleh semua literatur yang baik? Bukan memberikan jawaban, tapi membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih baik tentang kehidupan kita sendiri.
Penulis tulisan ini tidak memberikan saya biografi Franz Kafka dalam pengertian tradisional. Tapi dia memberikan saya sesuatu yang lebih berharga: cara untuk membaca Kafka—dan kehidupan—dengan mata yang lebih empati, dengan hati yang lebih terbuka, dengan kesediaan untuk duduk di ruang tunggu dan menunggu bersama, meski kita tidak tahu apa yang kita tunggu.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Anda dapat membaca artikel biografi kafka di Jurnal Pembaca Di Blogspot. Bagian Pertama Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif dan Bagian Dua Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif bagian 2

Comments