Ketika Saya Membaca Tentang Kandang, Saya Ingat Tentang D
Catatan dari malam yang terlalu panjang
Pukul sepuluh malam. Saya duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, mug kopi hitam di meja—sudah dingin sejak setengah jam lalu tapi saya belum sempat isi ulang. Di luar, gerimis turun. Bukan hujan deras yang membuat orang berlari mencari payung, hanya gerimis kecil yang membuat jalanan berbau aspal basah dan tanah.
Saya sebenarnya sedang mencoba menyelesaikan laporan kerja. Sudah dua hari tertunda. Tapi seperti biasa, saya membuka media sosial dulu. "Lima menit saja," begitu saya bilang pada diri sendiri. Lima menit yang selalu menjadi tiga puluh menit.
Di antara foto kucing dan status komplain soal kemacetan, ada tautan yang di-share R. R jarang share artikel. Biasanya hanya meme atau video lucu. Jadi ketika melihat R share sesuatu yang serius, saya jadi penasaran.
"Sembilan Cangkir dan Percakapan yang Belum Selesai."
Judul yang aneh. Tapi ada sesuatu tentang kata "percakapan yang belum selesai" yang membuat perut saya tidak nyaman. Seperti seseorang menyebut nama D dengan keras di ruangan sunyi.
Saya klik tautan itu. Tidak dengan antusiasme. Lebih seperti orang yang membuka pintu kamar mandi umum tanpa tahu apakah ada orang di dalam atau tidak.
Paragraf pertama bicara tentang tarot. Tentang tiga kartu: Eight of Swords, Knight of Cups, Nine of Cups. Saya tidak percaya tarot—tidak percaya bahwa kartu bisa membaca masa depan atau membongkar rahasia jiwa. Tapi Penulis—sebut saja dia Penulis, karena saya tidak yakin siapa dia dan tidak yakin ingin tahu—tidak bicara tentang meramal. Dia bicara tentang cermin.
"Ada perbedaan antara melihat masa depan dan mengakui masa lalu yang belum selesai kita proses," tulis dia.
Saya berhenti membaca. Bukan karena kalimatnya buruk. Tapi karena terlalu jujur.
Saya pikir ini akan jadi bacaan ringan sebelum tidur. Ternyata saya salah. Seperti mengira akan hujan gerimis tapi yang datang badai. Metafora yang buruk, tapi cukup akurat.
Penulis membangun narasinya dalam tiga babak. Seperti drama Yunani, atau seperti perjalanan yang tidak bisa Anda hindari begitu Anda masuk ke dalam mobil. Eight of Swords adalah kandang. Knight of Cups adalah undangan. Nine of Cups adalah kepenuhan yang kosong.
Tiga tahap yang entah kenapa terasa seperti tiga tahap kehidupan yang sedang saya jalani, meski saya bersikeras pada diri sendiri bahwa ini hanya kebetulan.
Saya bisa saja menutup tab itu.
Saya bisa saja scroll lebih jauh, cari video kucing, tidur.
Besok bangun, kerja, ulangi.
Rutinitas yang aman. Rutinitas yang tidak memaksa saya mengingat D.
Tapi saya tidak menutup tab itu.
Kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin karena kopi sudah dingin dan saya terlalu malas untuk berdiri membuat yang baru. Mungkin karena laporan kerja itu membosankan. Mungkin karena sudah tiga bulan sejak percakapan terakhir dengan D dan saya mulai lupa bagaimana rasanya merindukan seseorang tanpa benar-benar ingin menghubungi mereka.
Ada kutipan dari seseorang—saya lupa siapa—yang bilang bahwa kita membaca bukan untuk menemukan jawaban, tapi untuk menemukan pertanyaan yang lebih baik. Malam itu, saya belum tahu pertanyaan apa yang sedang saya cari.
I. Tentang Wanita Terbelenggu dan Pedang yang Tidak Mengurung
Tulisan itu dibuka dengan gambar tiga kartu tarot. Eight of Swords. Knight of Cups. Nine of Cups. Saya tidak percaya tarot. Tapi ada sesuatu tentang gambar wanita terbelenggu di kartu pertama yang membuat saya berhenti scroll.
Paragraf pertama: "Ada perbedaan antara melihat masa depan dan mengakui masa lalu yang belum selesai kita proses."
Saya membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali. Seperti mendengar seseorang menyebut nama Anda dari seberang jalan tapi Anda tidak yakin apakah itu benar-benar untuk Anda atau untuk orang lain.
Penulis tulisan itu—saya tidak tahu siapa dia, tidak perlu tahu—menulis tentang Eight of Swords dengan cara yang tidak biasa. Dia tidak menjelaskan simbolisme kartu dengan cara textbook. Dia bercerita tentang duduk di dapur jam 2:17 pagi, tentang gelas yang berembun, tentang motor yang lewat dan suaranya menjauh.
Detail yang aneh untuk diingat. Tapi saya paham. Karena saya juga ingat detail-detail aneh tentang malam terakhir dengan D.
Bukan kata-kata yang kami ucapkan—itu sudah kabur. Tapi cara D memegang gelas kopi. Cara jari-jarinya melingkari mug. Kuku yang dipotong pendek. Ada bekas luka kecil di buku jari kiri, saya tidak pernah tanya dari mana.
Penulis menulis: "Apa bedanya penjara dengan rumah, jika kita sendiri yang memasang kuncinya?"
Ketika saya membaca kalimat itu, tangan saya berhenti di trackpad. Tidak bergerak. Seperti freeze frame di film. Di luar, gerimis masih turun. Suara yang sama. Tapi sesuatu sudah berbeda.
Eight of Swords, kalau Anda tidak tahu—dan saya juga tidak tahu sampai saya googling setelah membaca tulisan itu—menggambarkan seorang wanita yang matanya tertutup, dikelilingi oleh delapan pedang yang ditancapkan ke tanah. Tapi pedang-pedang itu tidak benar-benar mengurungnya. Ada celah. Ada jalan. Dia bisa saja melangkah keluar.
Tapi dia tidak melakukannya.
Dan saya mengerti kenapa.
Penulis bicara tentang percakapan yang tidak selesai. Tentang bagaimana setiap kali ada undangan baru, dia ingat bahwa tidak semua undangan berakhir dengan kepulangan.
D suka memesan kopi dengan cara yang sangat spesifik. Americano, double shot, suhu medium—bukan hot, bukan warm, tapi medium. "Kalau terlalu panas, aku tidak bisa minum dulu. Kalau terlalu dingin, rasanya aneh," D pernah bilang, seolah ini masalah yang sangat penting.
Saya ingat itu karena saya pikir itu lucu. Orang yang sangat detail tentang kopi tapi sangat acak tentang hal-hal lain. D bisa lupa janji, lupa membawa dompet, tapi tidak pernah lupa cara memesan kopi.
Percakapan terakhir kami tiga bulan lalu tidak dramatis. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kata-kata keras. Hanya chat yang semakin jarang. Panggilan telepon yang semakin canggung. Dan kemudian saya bilang, "Aku lagi sibuk." D bilang, "Oke, nanti aja."
Nanti yang tidak pernah datang.
Atau mungkin datang, tapi kami berdua sudah terlalu lelah untuk membuka pintu.
Penulis menulis tentang membangun kandang dari asumsi. Tentang bagaimana ketakutan tidak selalu berteriak—kadang dia berbisik dengan sangat lembut sehingga kita mengira itu suara kita sendiri.
Dan saya berpikir: mungkin itu yang terjadi dengan D dan saya. Bukan ada yang salah. Bukan ada yang pergi. Hanya... kami berdua terlalu takut untuk bertanya, "Kamu masih di sini?"
Ada malam ketika Penulis duduk di dapur—jam menunjukkan pukul 2:17 dini hari, dia catat detailnya dengan presisi yang nyaris obsesif—dan menyadari bahwa dia tidak ingat kapan terakhir kali dia tertawa tanpa merasa bersalah setelahnya. Bersalah karena tertawa ketika ada seseorang yang mungkin masih dia sakiti. Bersalah karena bahagia ketika cerita di kepala masih mengatakan dia tidak berhak.
Saya tahu sensasi itu. Terlalu tahu.
Minggu lalu, saya tertawa ketika menonton video bodoh di internet. Hanya tertawa—tidak ada yang istimewa. Tapi lima detik kemudian, ada suara di kepala yang bertanya: "Apakah D masih memikirkan kamu? Apakah D masih sakit? Dan kamu di sini tertawa seperti tidak ada yang terjadi?"
Absurd. D bahkan mungkin sudah tidak ingat saya. Tapi otak tidak peduli logika.
Sejak kapan saya mulai hidup seperti ini? Bangun, kerja, pulang, Netflix, tidur. Tidak ada yang salah dengan rutinitas ini. Tapi juga tidak ada yang hidup.
D pernah bilang, "Kamu tuh kayak orang yang udah pensiun padahal baru umur 30-an." Saya tertawa waktu itu. Sekarang saya tidak yakin itu lelucon.
Penulis menulis tentang tidak ingat kapan terakhir kali tertawa tanpa merasa bersalah. Saya paham sensasi itu. Minggu lalu saya tertawa nonton stand-up comedy di YouTube. Lima detik kemudian ada suara di kepala: "D masih memikirkan kamu? D masih sakit? Dan kamu di sini tertawa?"
Filsuf Schopenhauer pernah bilang bahwa kesepian dan kesendirian adalah dua hal berbeda. Kesepian adalah melihat lubang. Kesendirian adalah kesempatan berbicara dengan diri sendiri. Tapi bagaimana kalau Anda tidak tahu lagi mana yang mana? Bagaimana kalau yang Anda pikir kesendirian ternyata hanya kesepian yang sudah terlalu lama sampai jadi nyaman?
Saya duduk di kamar saya, pukul sebelas malam, laptop di pangkuan, hujan masih gerimis di luar, dan saya menyadari: saya sedang membaca tentang diri saya sendiri.
Atau mungkin saya hanya sedang mencari validasi bahwa saya tidak sendirian dalam kecemasan ini. Mungkin itulah kenapa kita membaca—untuk merasa kurang gila.
II. Tentang Orang Bernama R dan Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab
Di bagian kedua, Penulis memperkenalkan seseorang—sebut saja A. Bukan dengan pengenalan dramatis. Tidak ada musik latar. Hanya pertanyaan sederhana: "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang paling sulit dijawab dengan jujur.
Ada yang cerdas dalam cara Penulis menggambarkan A—dia tidak membuat A sebagai "penyelamat." A hanya seseorang yang bertanya, yang mengajak kopi, yang mengirim rekomendasi buku, yang menawarkan jalan sore sambil tidak ngomong apa-apa kalau perlu. Undangan yang diulang-ulang sampai Penulis kehabisan alasan untuk menolak.
Knight of Cups, dalam tradisi tarot, adalah kartu undangan—seseorang yang membawa cangkir, simbol emosi dan intuisi, dan berkata: "Ini untukmu. Kalau kamu mau." Tidak memaksa. Tidak menuntut. Hanya menunggu.
Dan itu yang membuatnya menakutkan. Karena ketika seseorang memaksa, kita punya alasan untuk menolak. Tapi ketika seseorang hanya menawarkan—dengan sabar, tanpa tuntutan—kita kehilangan excuse.
Saya punya R. Atau lebih tepatnya, R punya saya—dalam arti R yang memutuskan untuk tetap mencoba meski saya tidak memberi sinyal yang jelas.
R dan saya bertemu di coffee shop yang sama setiap hari. Bukan karena kami janjian. Tapi karena kami berdua punya rutinitas yang kebetulan sama: beli kopi jam 10 pagi di tempat yang sama.
Bulan pertama, kami hanya saling tersenyum. Bulan kedua, R mulai bilang "Halo." Bulan ketiga, R duduk di meja yang sama tanpa izin.
Saya tidak tahu apakah ini harassment atau pertemanan. Mungkin keduanya.
Dua minggu lalu, R bertanya, "Kenapa kamu selalu duduk di pojok?"
Saya tidak tahu harus jawab apa. Karena jawaban sebenarnya adalah: karena dari pojok saya bisa lihat semua orang, tapi tidak ada yang bisa lihat saya terlalu jelas. Karena pojok terasa aman. Karena saya sudah terbiasa di pinggir.
Jadi saya bilang, "Lebih sepi."
R mengangguk. Tidak mendesak. Dan itu—entah kenapa—membuat saya lebih tidak nyaman daripada kalau R mendesak.
Penulis menulis tentang skeptisisme zaman kita. Tentang bagaimana kita hidup di era di mana kebaikan dianggap punya motif tersembunyi. Dan dia benar.
Saya ingin percaya bahwa R datang tanpa agenda. Tapi bagian dari saya—bagian yang pernah percaya D akan tetap ada—terus berbisik: tunggu saja. Tunggu sampai R bosan. Tunggu sampai R sadar bahwa saya bukan orang yang menarik. Hanya orang yang duduk di pojok coffee shop, membaca artikel aneh tentang tarot di malam hari.
Di tulisan Penulis, ada adegan di teras kafe setelah hujan. A dan Penulis duduk di sana, memesan kopi—A pesan kopi hitam, Penulis pesan teh karena masih belum percaya pada diri sendiri untuk memegang sesuatu yang terlalu kuat. Dan A bertanya: "Kenapa kamu selalu terlihat seperti sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi?"
Penulis tidak bisa menjawab. Karena tahu terlalu banyak jawaban, dan tidak satupun yang bisa diucapkan tanpa membongkar semuanya.
Saya tahu sensasi itu. R bertanya hampir hal yang sama minggu lalu. Dan saya hanya bisa diam, menatap cangkir kopi, menghitung detik sampai pertanyaan itu lewat.
R tidak mendesak. Hanya mengangguk. Dan entah kenapa, itu membantu.
Tapi ada yang mengganggu—bayangan D yang muncul di pinggiran pikiran setiap kali saya bersama R.
Seperti hantu yang tidak berisik tapi tetap terasa.
Setiap kali R tertawa, saya ingat cara D tertawa. Bukan karena mirip. Justru karena berbeda. D tertawa dengan kepala menengadah, mata menyipit, suara lebih keras dari yang D sadari. R tertawa pelan, lebih controlled, seperti orang yang terbiasa tidak menarik perhatian.
Tapi kenapa saya compare? Kenapa R harus diukur berdasarkan D?
Minggu lalu, R mengajak saya jalan sore. Kami duduk di bangku taman dekat kantor. Tidak bicara banyak. Hanya duduk, menonton orang-orang lewat, mendengar suara anak-anak bermain di kejauhan.
Dan tiba-tiba R bertanya, "Kenapa kamu selalu terlihat seperti sedang bersiap untuk lari?"
Saya tidak tahu harus jawab apa. Karena jawabannya terlalu panjang. Karena jawabannya adalah: aku takut kalau aku tinggal terlalu lama, kamu akan melihat semua bagian yang rusak. Aku takut kalau aku membiarkan diri sendiri percaya bahwa kamu akan tetap ada, kamu akan pergi seperti D pergi—tanpa penjelasan, tanpa penutupan, hanya keheningan yang bergema.
Jadi saya bilang, "Aku tidak tahu."
Kebohongan kecil. Atau mungkin bukan kebohongan. Mungkin saya memang tidak tahu—tidak tahu cara menjelaskan tanpa membongkar seluruh arsip luka yang sudah saya kubur rapi.
R tidak menjawab langsung. Hanya menatap pohon di depan kami, lalu tersenyum—bukan senyum yang mencoba memperbaiki, tapi senyum yang mengakui bahwa dia tidak tahu harus bilang apa.
Dan entah kenapa, itu membantu.
Kapan tepatnya seseorang berhenti jadi bayangan dan mulai jadi kenangan biasa?
Kapan kita tahu bahwa kita sudah boleh membuka pintu lagi tanpa merasa seperti kita menginjak sesuatu yang suci?
Penulis tidak memberi jawaban untuk pertanyaan itu. Dia hanya menulis: "Knight of Cups masih ada. A masih mengirim pesan. Tapi sekarang saya tahu: ia bukan pengganti. Ia hanya jembatan."
Dan saya berpikir: mungkin R juga jembatan. Bukan tujuan. Hanya jembatan dari tempat saya berdiri—terkurung di Eight of Swords—ke tempat lain yang belum saya kenali namanya.
Dan mungkin itu cukup.
Atau mungkin tidak.
Tapi setidaknya sekarang saya berdiri di jembatan, bukan di kandang.
III. Tentang Cangkir Kesembilan dan Rasa Datar yang Tidak Bisa Dijelaskan
Bagian ketiga adalah yang paling mengganggu. Karena Penulis bicara tentang sesuatu yang saya rasakan tapi belum pernah saya beri nama: mendapatkan semua yang "seharusnya" membuat bahagia, tapi merasa kosong.
Bukan kosong yang dramatis. Hanya... datar. Seperti makan makanan favorit tapi lidah tidak merasakan apa-apa.
"Saya mendapatkan semua yang saya minta. Dan sekarang saya tidak yakin apa yang saya inginkan."
Nine of Cups disebut kartu keinginan terpenuhi. Dalam gambar kartu, ada pria yang duduk dengan sembilan cangkir tersusun rapi di belakangnya, tangan terlipat, ekspresi puas. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja menang.
Tapi Penulis bertanya: "Dan kemudian apa?"
Yang saya kagumi, Penulis tidak memberi solusi. Dia tidak bilang, "Dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan." Dia membiarkan ambiguitas. Dan itu terasa lebih jujur daripada happy ending yang dipaksakan.
Saya cek hidup saya sendiri. Seperti inventory di video game.
Pekerjaan: ✓ Stabil. Gaji cukup. Bos tidak menyebalkan.
Kesehatan: ✓ Tidak sakit. Bisa jalan, makan, tidur.
Hubungan: ✓ Ada R yang baik. Yang sabar. Yang tidak tuntut jawaban cepat.
All boxes checked. Tapi kenapa rasanya seperti main game dengan cheat code? Tidak ada challenge. Tidak ada excitement. Hanya... progress bar yang bergerak tapi tidak ke arah yang jelas.
Penulis menggunakan konsep dukkha dari Buddhisme—kata yang sering disalahartikan sebagai "penderitaan" padahal lebih tepat "ketidakpuasan yang melekat pada eksistensi." Bukan karena hidup buruk. Tapi karena bahkan ketika hidup baik, ada sensasi halus bahwa ini tidak akan bertahan.
Ini yang Penulis maksud dengan paradoks Nine of Cups. Dia menulis: "Ia berkata: 'Ini yang kamu mau, kan?' Dan kamu terpaksa menjawab: 'Iya. Tapi kenapa rasanya seperti ada yang hilang?'"
Minggu lalu saya bangun jam 6 pagi. Matahari baru mulai naik. Udara masih dingin. Burung berkicau di luar jendela. Pagi yang sempurna untuk merasa hidup.
Tapi saya tidak merasa apa-apa.
Saya bangun, mandi, siap kerja. Rutinitas yang sama. Dan saya tidak ingat kapan terakhir kali saya bangun dan langsung merasa... ingin sesuatu. Bukan butuh. Bukan "harus." Tapi ingin—dengan cara yang irasional dan hidup.
Saya berdiri di depan cermin. Melihat wajah sendiri. Orang yang sama yang saya lihat setiap hari. Tapi seperti lihat stranger. Stranger yang capek. Stranger yang sudah lupa kenapa dia bangun.
Di tulisan Penulis, ada momen di teras yang sama—tempat pertama kali A bertanya kenapa dia selalu terlihat menunggu hal buruk. Sekarang hujan lagi. A di sebelahnya, membaca ponsel, tertawa pelan. Keheningan mereka tidak canggung.
Dan tiba-tiba Penulis ingat B—orang yang hilang enam bulan lalu tanpa penjelasan.
Tapi bukan ingat dengan cara yang menyakitkan. Hanya ingat. Ingat cara B memesan kopi (double shot, tanpa gula, selalu dengan sedikit komplain tentang barista yang terlalu ceria). Ingat cara B tertawa (kepala menengadah, mata menyipit, suara lebih keras dari yang disadari). Ingat bagaimana percakapan mereka tidak pernah selesai—karena selalu punya sesuatu lagi untuk dibicarakan, sampai suatu hari tidak punya lagi.
Dan Penulis menyadari: "Saya tidak kehilangan B. Saya kehilangan narasi yang saya bangun tentang B."
Kalimat itu menohok saya seperti pukulan yang terlambat saya sadari.
Karena mungkin saya juga tidak kehilangan D.
Saya kehilangan cerita yang saya ceritakan pada diri sendiri tentang D.
Cerita di mana D adalah orang yang memahami saya. Cerita di mana kami akan menemukan cara untuk bicara lagi. Cerita di mana akhirnya ada penutupan.
Tapi D tidak hidup dalam cerita saya. D hidup di kehidupannya sendiri, dengan ceritanya sendiri, di mana mungkin saya hanya footnote kecil yang sudah lama terlupakan.
Dan menerima itu—menerima bahwa saya tidak punya hak atas cerita D lagi—terasa seperti melepaskan sesuatu yang sudah jadi bagian dari identitas saya.
Kita suka berpikir bahwa cinta adalah tentang orang. Tapi sering kali, cinta adalah tentang cerita yang kita ceritakan pada diri sendiri tentang orang itu. Dan ketika cerita itu runtuh, yang tersisa adalah: siapa mereka sebenarnya? Atau lebih tepatnya, siapa kita tanpa cerita itu?
Seperti yang ditulis dalam esai tentang kesepian dan filsafat, kadang kesepian bukan soal kehilangan seseorang. Tapi soal kehilangan narasi tentang diri kita sendiri ketika orang itu ada.
Penulis menulis tentang belajar hidup dengan ketidaklengkapan. Tentang menerima bahwa bisa punya delapan cangkir yang penuh, dan satu yang kosong, dan itu bukan kegagalan—itu hanya kenyataan.
Saya tidak tahu apakah suatu hari saya akan benar-benar melepaskan D. Saya tidak tahu apakah R akan tetap ada tahun depan. Saya tidak tahu apakah saya akan pernah merasa "cukup."
Tapi mungkin—hanya mungkin—tidak tahu itu adalah bagian dari prosesnya.
Mungkin kebahagiaan bukan tentang tidak punya luka. Mungkin tentang berdamai dengan fakta bahwa beberapa cangkir akan selalu kosong. Bahwa beberapa percakapan tidak akan pernah selesai. Bahwa beberapa orang akan jadi bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan kita tetap berjalan.
Kita tetap membuka cangkir baru, meski takut tumpah.
Kita tetap menerima undangan, meski tidak tahu kemana itu akan berujung.
IV. Kembali ke Sofa, Kembali ke Diri
Saya selesai membaca. Jam menunjukkan pukul satu pagi. Kopi sudah lama dingin. Saya tidak ingat kapan terakhir menyentuhnya.
Di luar, hujan sudah berhenti. Tapi jalanan masih basah. Lampu jalan memantul di aspal. Kucing tetangga lewat—kucing oranye yang biasa berkeliaran malam-malam. Dia berhenti. Menatap jendela saya. Lalu jalan lagi.
Tidak ada yang berubah. Tapi juga semuanya berbeda.
Ada cangkir teh di sebelah kiri saya. Sudah dingin. Saya tidak ingat kapan membuatnya. Cincin kecoklatan mengering di dasarnya—sama seperti gelas yang Penulis gambarkan di tulisannya. Detail kecil yang membuat saya sadar: kita semua hidup dengan gelas-gelas yang tidak tersentuh, dengan keheningan-keheningan yang tidak terisi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita membaca tulisan orang lain dan menemukan diri kita di sana?
Apakah itu berarti penulisnya jago? Atau kita yang sedang desperate mencari validasi?
Mungkin bukan soal penulis atau pembaca. Mungkin tentang momen ketika kata-kata—entah siapa yang tulis—bertemu dengan kebutuhan kita untuk dimengerti. Dan dalam pertemuan itu, sesuatu yang tadinya buram jadi sedikit lebih jelas.
Bukan terang. Hanya sedikit lebih jelas.
Seperti ketika Anda berjalan di kabut dan tiba-tiba ada angin yang membuat kabut itu bergeser sedikit. Anda tidak bisa lihat keseluruhan jalan. Tapi Anda bisa lihat beberapa langkah ke depan. Dan kadang, itu sudah cukup.
Saya tidak akan menghubungi D besok. Saya tahu itu. Saya bahkan tidak yakin saya akan menghubungi D bulan depan, atau tahun depan.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Kesadaran kecil bahwa mungkin saya tidak harus memilih antara melindungi diri atau membuka diri. Mungkin saya bisa melakukan keduanya—perlahan, hati-hati, dengan banyak jeda.
Besok saya mungkin akan beli kopi lagi di tempat yang sama. R mungkin akan datang. Mungkin tidak. R mungkin akan bertanya sesuatu yang tidak bisa saya jawab. Atau mungkin kami hanya akan duduk dalam diam, dan diam itu akan terasa nyaman, bukan canggung.
Hidup akan terus seperti ini—rutinitas yang sama, pertanyaan yang sama, tanpa jawaban yang jelas.
Dan mungkin itu oke.
Mungkin.
Saya menutup laptop. Berdiri. Gelas kopi masih di meja. Besok pagi saya akan cuci. Atau mungkin tidak. Mungkin akan saya biarkan di sana, jadi reminder bahwa saya pernah duduk dan membaca sesuatu yang membuat saya ingat D.
Tidak dengan cara yang menyakitkan. Hanya ingat. Seperti mengingat lagu yang pernah Anda suka tapi sudah lama tidak dengar. Masih ada di memori, tapi tidak lagi membuat dada sesak.
Di luar, jalanan sepi. Tidak ada suara. Hanya dengung kulkas di dapur—suara yang sama setiap malam, suara yang mengingatkan bahwa rumah masih berdiri, bahwa besok akan datang mau saya siap atau tidak.
Saya berjalan ke kamar. Berbaring. Tidak langsung tidur.
Hanya berbaring. Mata terbuka. Menatap langit-langit.
Ada retakan kecil di sudut kanan. Sudah ada sejak saya pindah ke sini dua tahun lalu. Saya selalu bilang akan memperbaikinya. Tapi tidak pernah melakukannya. Karena retakan itu tidak mengganggu. Hanya ada di sana. Jadi bagian dari pemandangan.
Seperti D. Seperti percakapan yang belum selesai. Seperti pertanyaan tanpa jawaban.
Hanya ada di sana.
Jadi bagian dari pemandangan.
Besok saya akan bangun jam tujuh. Mandi. Buat kopi—kali ini akan saya minum selagi masih panas. Berangkat kerja. Mungkin beli kopi lagi di tempat yang sama. Mungkin ketemu R. Mungkin tidak.
Besok saya mungkin akan ingat D lagi. Atau mungkin tidak. Mungkin saya akan membaca artikel lain yang membuat saya tidak nyaman. Atau mungkin saya akan menghindari semua artikel dan hanya scroll melihat foto kucing.
Besok adalah besok.
Dan hari ini—hari ini saya sudah membaca.
Dan membaca, kadang, adalah langkah pertama yang cukup.
Saya menutup mata. Menunggu tidur datang. Tidak memaksakan.
Di luar, ada suara anjing menggonggong. Jauh. Mungkin tiga rumah dari sini. Lalu berhenti.
Hening lagi.
Dan saya berpikir tentang tulisan itu. Tentang tiga kartu. Tentang kandang, undangan, dan cangkir yang kosong.
Tentang bagaimana Penulis tidak memberi jawaban. Hanya duduk dengan pertanyaan. Membiarkan ambiguitas.
Dan mungkin itu yang paling jujur dari semuanya.
Bahwa kita tidak selalu tahu.
Bahwa beberapa hal tidak dirancang untuk selesai.
Bahwa beberapa percakapan akan terus bergema, meski tidak ada lagi yang bicara.
Dan di dalam gema itu, kita belajar hidup.
Atau setidaknya, kita mencoba.
Mata saya mulai berat. Tidur hampir datang. Dan detik terakhir sebelum kesadaran menghilang, saya berpikir:
Besok, mungkin saya akan membaca lagi.
Atau mungkin saya akan menulis.
Tentang kandang yang saya bangun sendiri.
Tentang R yang masih menunggu saya bisa jawab pertanyaannya.
Tentang D yang mungkin sudah tidak ingat saya, tapi saya masih ingat cara D memesan kopi.
Atau mungkin tidak.
Mungkin saya hanya akan bangun, buat kopi, dan menjalani hari seperti biasa.
Dan itu juga oke.
Karena kadang, hidup bukan tentang menemukan jawaban.
Tapi tentang belajar duduk dengan pertanyaan sampai pertanyaan itu tidak lagi terasa seperti beban.
Hanya pertanyaan.
Yang mengambang.
Di udara malam yang sepi.

Comments