Mewarisi Keresahan: Ketika Kita Menemukan Diri Kita dalam Ketidakpastian Orang Tua
Sebuah esai personal tentang trauma intergenerasi, pertanyaan yang tak terjawab, dan pembelajaran untuk berhenti mencari.
I. Buku Catatan dengan Sampul Kulit
Buku itu berbau seperti waktu. Bukan metafora—benar-benar ada aroma tertentu yang keluar ketika saya membuka sampul kulitnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Campuran kertas lama, tinta yang memudar, dan sesuatu yang saya tidak bisa beri nama. Debu, mungkin. Atau kelembapan yang sudah meresap bertahun-tahun.
Saya menemukannya di kardus paling bawah di gudang rumah ibu, tersembunyi di antara map-map surat tanah dan dokumen keluarga yang tidak pernah dibuka lagi. Buku catatan berukuran sedang, kira-kira sebesar buku tulis SMA, dengan sampul kulit cokelat tua yang sudah retak-retak seperti kulit manula. Ada inisial timbul di pojok kanan atas: R.A.
Ayah saya.
Saya tidak langsung membukanya. Entah kenapa, memegang buku itu terasa seperti memegang sesuatu yang sakral dan berbahaya sekaligus. Seperti kotak Pandora, tapi dalam versi yang lebih sunyi, lebih pribadi. Saya duduk di lantai gudang yang berdebu itu—lantai semen dingin yang membuat bokong saya kebas setelah lima menit—dan menatap buku itu lama sekali.
Cahaya sore masuk dari ventilasi kecil di atas, membuat garis-garis terang di udara berdebu. Saya ingat berpikir: Ini seperti adegan di film. Tapi hidup tidak pernah se-sinematik itu. Di film, tokoh utama akan langsung membuka buku dengan tangan gemetar, lalu kamera akan close-up ke wajahnya yang terkejut membaca isi pertama. Tapi saya hanya duduk saja, membiarkan debu menempel di celana jeans, membiarkan kaki saya kebas, membiarkan sore berlalu.
Tangan yang Sama
Ketika akhirnya saya membuka halaman pertama, yang pertama kali saya perhatikan bukan isinya, tapi tulisan tangannya. Rapi, dengan kemiringan konsisten ke kanan, huruf-huruf yang terbentuk dengan tekanan pulpen yang merata. Tulisan tangan seseorang yang terlatih menulis dengan teliti. Tulisan tangan yang—saya baru sadari—sangat mirip dengan tulisan tangan saya sendiri.
Saya tidak pernah tahu ini sebelumnya. Atau mungkin saya tahu tapi tidak pernah benar-benar melihat. Cara saya membuat huruf 'a' yang agak bundar, cara saya menarik ekor huruf 'y' sedikit lebih panjang, cara titik-titik di atas huruf 'i' tidak pernah tepat di tengah tapi selalu sedikit ke kanan.
Semua itu ada di halaman-halaman buku catatan ini. Seperti saya sedang melihat cermin, tapi cermin yang memantulkan masa lalu.
"Kenapa kita menulis seperti orang tua kita? Apakah ini genetik, atau kita tanpa sadar meniru mereka saat masih kecil, ketika kita belajar membentuk huruf pertama kita?"
Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi saya ingat—remang-remang, seperti memori yang dilihat dari balik tirai—ayah mengajarkan saya menulis. Saya berusia berapa? Lima tahun? Enam? Kami duduk di meja makan kayu yang sudah usang itu, dan ayah memegang tangan saya yang masih kecil, membimbing jari-jari saya menggenggam pensil, membentuk huruf-huruf di atas kertas bergaris.
"Pelan-pelan," katanya waktu itu. "Tulisan itu seperti napas. Kalau kau terburu-buru, hasilnya berantakan."
Saya tidak tahu apakah itu memori asli atau memori yang saya konstruksi sendiri dari kepingan-kepingan yang saya dengar dari ibu. Memori masa kecil itu licin—semakin keras kau genggam, semakin cepat ia meluncur lepas.
II. Di Ruang Tunggu Rumah Sakit
Ayah meninggalkan kami ketika saya berusia dua belas tahun. Bukan meninggal—meninggalkan. Ada perbedaan penting di sana.
Orang yang meninggal meninggalkan kesedihan yang jelas bentuknya. Ada upacara, ada pemakaman, ada orang-orang datang membawa bunga dan ucapan belasungkawa. Ada penutupan, sekecil apapun itu. Tapi orang yang pergi—yang memilih untuk pergi—meninggalkan lubang yang bentuknya selalu berubah-ubah. Kadang lubang itu terasa besar seperti jurang, kadang menyempit seperti retakan di dinding yang nyaris tidak terlihat tapi tetap ada.
Saya ingat hari terakhir melihatnya. Bukan karena saya tahu itu akan jadi hari terakhir—tidak ada dramatis goodbye seperti di film—tapi karena ada sesuatu yang aneh di matanya pagi itu. Kosong. Seperti ia sudah pergi meski tubuhnya masih ada di depan saya.
Kami sarapan bersama seperti biasa. Nasi goreng sisa kemarin yang ibu hangatkan lagi. Ayah tidak makan banyak. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya dengan sendok, menatap piring dengan tatapan yang tidak fokus.
"Ayah sakit?" tanya saya waktu itu.
Ia menoleh, tersenyum—tapi senyum itu tidak sampai ke mata. "Tidak. Ayah cuma capek."
"Capek kenapa?"
Ia tidak menjawab langsung. Hanya menatap saya lama, seperti sedang mengukur sesuatu. Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat pelan: "Kadang orang capek bukan karena terlalu banyak bekerja, tapi karena tidak tahu lagi kenapa dia bekerja."
Pertanyaan yang Terlalu Besar
Waktu itu saya tidak mengerti. Saya hanya anak kelas enam yang dunianya masih seputar PR matematika dan pelajaran IPA. Tapi sekarang, dua puluh tahun kemudian, saya paham. Atau setidaknya, saya mulai merasakan apa yang ayah rasakan.
Kekosongan itu. Kehampaan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Perasaan bangun pagi dan bertanya: Untuk apa?
Sore itu ayah tidak pulang. Ibu menelepon kantornya, tapi katanya ayah sudah resign sebulan lalu. Kami tidak tahu itu. Ayah tetap berangkat setiap pagi dengan kemeja dan tas kerjanya, pulang sore dengan wajah lelah. Ternyata ia pergi entah ke mana. Duduk di taman, mungkin. Atau berjalan tanpa tujuan.
Seminggu kemudian, ibu menemukan surat di laci meja kerjanya. Singkat. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada permintaan maaf yang berbunga-bunga. Hanya dua kalimat:
"Aku tidak bisa lagi berpura-pura mengerti kenapa aku di sini. Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk tetap tinggal."
Itu saja.
Dua puluh tahun berlalu, dan saya baru mengerti bahwa keresahan itu tidak hilang bersama kepergiannya. Ia tertinggal, seperti endapan di dasar gelas yang tidak pernah larut sepenuhnya meski airnya sudah diganti berkali-kali.
III. Sungai yang Tidak Berhenti
Saya menemukan buku catatan itu tiga minggu setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang seharusnya menjadi dream job saya. Editor senior di penerbit besar. Gaji baik. Kantor dengan view kota yang instagrammable. Semua hal yang seharusnya membuat saya bahagia.
Tapi suatu pagi saya bangun dan merasa seperti tenggelam. Bukan metafora—benar-benar merasa seperti ada air yang masuk ke paru-paru setiap kali saya bernapas. Saya duduk di tepi kasur, menatap jam digital yang menunjukkan 05:47, dan berpikir: Aku tidak bisa melakukan ini lagi.
Tidak bisa melakukan apa? Saya tidak tahu. Bekerja? Bangun pagi? Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja? Semuanya terasa benar dan salah sekaligus.
Saya telepon atasan saya jam delapan pagi itu, minta cuti dadakan. Dua minggu kemudian, saya resign. Semua orang terkejut. Teman-teman kerja bertanya kenapa. Ada masalah di kantor? Ada tawaran lebih baik? Mau fokus nulis buku?
Saya tidak punya jawaban yang memuaskan. "Aku cuma butuh istirahat," kata saya. Tapi itu bohong. Bukan istirahat yang saya butuhkan. Saya butuh mengerti kenapa saya tidak lagi tahu siapa saya.
Paralel yang Menakutkan
Ketika saya membaca buku catatan ayah, saya menemukan kalimat ini di halaman ketujuh:
"Pagi ini aku bangun dan tidak bisa bernapas. Bukan asma—aku tahu bedanya. Ini sesuatu yang lain. Seperti ada yang menekan dada dari dalam. Seperti tubuh ini menolak untuk melanjutkan hari, tapi aku tidak punya pilihan selain memaksanya."
Saya membaca kalimat itu berulang-ulang. Tanggal di atas entri itu: 14 Maret 1998. Tiga bulan sebelum ayah pergi.
Tangan saya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena pengenalan. Seperti menatap cermin dan melihat wajah orang lain yang ternyata adalah wajahmu sendiri.
Saya terus membaca. Setiap halaman terasa seperti membaca buku harian saya sendiri yang ditulis dua puluh tahun yang lalu oleh orang lain.
"Aku tidak tahu lagi kenapa aku melakukan semua ini. Bekerja untuk apa? Pulang untuk apa? Semua orang bilang ini namanya quarter-life crisis, tapi rasanya lebih dalam dari itu. Seperti ada pertanyaan besar yang tidak bisa aku jawab, dan pertanyaan itu membuatku tidak bisa melakukan apa-apa."
"Kadang aku berpikir: apakah ini cuma aku? Atau semua orang juga merasakan ini tapi pandai menyembunyikannya? Kalau semua orang merasa seperti ini, kenapa kita semua masih berpura-pura?"
"Sungai mengalir tanpa tahu ke mana. Tapi sungai tidak pernah berhenti untuk bertanya kenapa. Mungkin itu bedanya air dengan manusia. Air tidak butuh alasan untuk mengalir."
Pertanyaan yang Sama, Generasi yang Berbeda
Saya menutup buku itu dan menatap langit-langit gudang. Ada sarang laba-laba di pojok, gemetar tertiup angin dari ventilasi. Saya teringat sebuah cerpen yang pernah saya baca tentang seseorang yang mencari ayahnya di sebuah pulau kecil di tengah sungai, hanya untuk menemukan bahwa yang ia cari bukan ayahnya, tapi pemahaman tentang keresahan yang mereka berdua warisi.
Apakah ini yang disebut intergenerational trauma? Istilah psikologi yang saya baca di artikel-artikel akademik, tentang bagaimana trauma bisa diturunkan dari generasi ke generasi—bukan hanya lewat cerita atau perilaku, tapi juga lewat sesuatu yang lebih halus, lebih dalam. Lewat cara kita memandang dunia. Lewat pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab yang kita warisi tanpa kita sadari.
Penelitian menunjukkan bahwa trauma yang belum terselesaikan dalam diri orang tua bisa memengaruhi cara mereka berhubungan dengan anak, dan ini kemudian membentuk pola attachment dan cara anak melihat dunia. Tapi lebih dari itu—mungkin yang kita warisi bukan traumanya sendiri, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak pernah temukan jawabannya.
Ayah saya tidak pernah menemukan jawaban untuk pertanyaannya: Kenapa aku di sini? Dan sekarang pertanyaan itu menjadi pertanyaan saya juga.
IV. Belajar Diam
Ada satu entri dalam buku catatan ayah yang tidak saya mengerti sampai seminggu setelah membacanya:
"Hari ini aku duduk di tepi sungai selama tiga jam. Tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk. Orang-orang yang lewat mungkin pikir aku gila. Tapi untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku tidak merasa perlu mencari jawaban. Aku hanya duduk, dan sungai tetap mengalir, dan itu cukup."
Seminggu setelah membaca itu, saya pergi ke danau dekat rumah. Bukan sungai—tidak ada sungai di kota ini—tapi danau buatan di taman kota yang biasanya ramai pengunjung jogging pagi. Saya datang jam lima sore, ketika matahari mulai turun dan kebanyakan orang sudah pulang.
Saya duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, menghadap permukaan air yang bergerak pelan. Ada bebek-bebek berenang di kejauhan, sesekali menyelam mencari makan. Ada dedaunan mengapung, bergerak mengikuti riak air yang tidak kelihatan asalnya dari mana.
Saya tidak membawa buku, tidak membawa ponsel—sengaja saya tinggal di mobil. Hanya duduk. Merasakan angin sore yang agak dingin. Mendengar suara anak-anak bermain di kejauhan. Mencium bau rumput dan air yang sedikit amis.
Keheningan yang Bersuara
Sepuluh menit pertama terasa sangat lama. Pikiran saya tidak bisa diam—melompat dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran lain. Apa yang akan kukatakan pada orang tua tentang resign? Tabungan masih cukup untuk berapa bulan? Apa yang harus kulakukan sekarang?
Tapi setelah setengah jam, pikiran-pikiran itu mulai tenang. Tidak hilang—hanya tidak lagi terasa mendesak. Seperti suara yang pelan-pelan memudar sampai menjadi background noise yang nyaris tidak terdengar.
Saya menatap permukaan danau. Riak air yang tidak pernah sama persis, tapi juga tidak pernah benar-benar berbeda. Bergerak, tapi tidak ke mana-mana. Seperti bernapas.
Dan tiba-tiba saya mengerti.
Bukan epifani yang dramatis. Tidak ada suara surgawi atau pencerahan mendadak. Hanya pemahaman pelan yang meresap seperti air ke tanah: mungkin tidak semua pertanyaan memang harus dijawab.
Mungkin keresahan yang saya rasakan—dan yang ayah rasakan—bukan masalah yang harus dipecahkan. Mungkin itu hanya bagian dari pengalaman menjadi manusia yang sadar. Sadar bahwa kita hidup tanpa pernah benar-benar tahu kenapa. Sadar bahwa kita akan mati suatu hari nanti dan mungkin tidak akan pernah menemukan "makna" yang kita cari.
Dan mungkin—mungkin—itu tidak apa-apa.
Belajar Mengalir
Saya teringat kata-kata Annie Dillard, penulis yang esainya tentang alam dan kesadaran selalu membuat saya merasa tidak sendirian dalam kebingungan: "Examine all things intensely and relentlessly. Do not leave it, do not course over it, as if it were understood, but instead follow it down until you see it in the mystery of its own specificity."
Tapi mungkin ada waktu untuk memeriksa, dan ada waktu untuk membiarkan. Ada waktu untuk mencari, dan ada waktu untuk berhenti mencari.
Ayah saya berhenti mencari dengan cara yang salah—dengan pergi, dengan meninggalkan. Tapi mungkin ia juga mengajarkan saya sesuatu tanpa bermaksud: bahwa tidak semua orang menemukan jawaban, dan itu bukan kegagalan.
Saya duduk di tepi danau itu sampai matahari benar-benar terbenam. Lampu taman mulai menyala satu per satu. Bebek-bebek sudah kembali ke tepian, bersembunyi di antara semak-semak. Permukaan air berubah dari emas menjadi biru gelap.
Dan saya merasa—untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan—bisa bernapas.
V. Buku yang Terbuka
Sekarang buku catatan ayah ada di meja kerja saya. Saya tidak menyimpannya kembali ke kardus di gudang. Tapi saya juga tidak membacanya lagi.
Saya membiarkannya terbuka di halaman terakhir yang ada tulisannya. Halaman dengan kalimat yang ditulis dengan huruf besar, tinta hampir menembus kertas:
"TIDAK APA-APA UNTUK TIDAK TAHU."
Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang sudah kembali lebih tenang, ayah menulis:
"Mungkin suatu hari nanti anakku akan membaca ini. Jika ya: maafkan aku karena tidak bisa tetap tinggal. Tapi ketahuilah bahwa kepergianku bukan karena aku tidak cinta padamu atau ibumu. Aku pergi karena aku takut keresahanku akan membuat kalian tenggelam bersamaku. Mungkin itu keputusan yang salah. Mungkin seharusnya aku tetap tinggal dan belajar hidup dengan tidak-tahu itu. Tapi aku tidak cukup berani waktu itu."
"Kalau kau suatu hari merasakan hal yang sama—perasaan tenggelam, pertanyaan yang tidak ada jawabnya, keresahan yang tidak bisa dijelaskan—ingatlah: itu bukan kelemahan. Itu cuma cara tubuh memberitahu kita bahwa kita sedang berusaha terlalu keras mencari sesuatu yang mungkin tidak ada. Atau mungkin ada, tapi tidak dalam bentuk yang kita bayangkan."
"Berhentilah sebentar. Duduklah. Bernapaslah. Seperti sungai—terus mengalir meski tidak tahu tujuannya."
Warisan yang Baru
Saya tidak tahu di mana ayah sekarang. Ibu pernah dengar kabar dari teman lamanya bahwa ayah terakhir terlihat di kota kecil di pesisir, bekerja sebagai nelayan. Tapi itu sudah lima tahun lalu. Mungkin ia masih di sana, mungkin sudah pindah lagi. Mungkin masih hidup, mungkin tidak.
Ada bagian dari saya yang ingin mencarinya. Bertemu, bicara, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dua puluh tahun menumpuk. Tapi ada bagian lain yang merasa itu tidak perlu.
Karena yang saya cari bukan ayah saya. Yang saya cari adalah pemahaman—dan saya sudah menemukannya, dalam bentuk yang tidak saya duga. Bukan jawaban pasti, bukan solusi konkret, tapi sesuatu yang lebih halus: penerimaan terhadap ketidakpastian.
Saya membuka laptop, membuat dokumen baru. Mulai menulis—bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk memetakan pertanyaan. Untuk membiarkan keresahan itu mengalir lewat jari-jari saya ke layar, membentuk kata-kata yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa-siapa selain saya sendiri.
Dan itu cukup.
Menulis Ulang Warisan
Jika suatu hari nanti saya punya anak, dan anak itu menemukan tulisan-tulisan saya seperti saya menemukan tulisan ayah, saya berharap mereka tidak menemukan jawaban. Saya berharap mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga: keberanian untuk tidak tahu, dan tetap hidup dengan penuh.
Karena mungkin itulah yang sebenarnya diwariskan antar generasi—bukan trauma, bukan jawaban, tapi kapasitas untuk bertanya. Dan kemudian, di suatu titik, kapasitas untuk berhenti bertanya dan mulai sekadar berada.
Saya menatap buku catatan ayah yang terbuka di meja. Halaman-halamannya yang menguning. Tinta yang memudar. Tulisan tangan yang begitu mirip dengan tulisan saya.
Lalu saya mengambil pulpen, membuka buku baru—buku dengan sampul biru tua yang saya beli minggu lalu—dan mulai menulis. Tidak untuk menjawab pertanyaan ayah. Tidak untuk menyelesaikan ceritanya.
Hanya untuk melanjutkan percakapan.
Buku catatan ayah masih terbuka di halaman itu. Saya membiarkannya. Seperti jendela yang dibiarkan terbuka—bukan karena menunggu sesuatu masuk, tapi karena perlu membiarkan udara mengalir.
Keresahan masih ada. Pertanyaan masih ada. Tapi sekarang saya tidak lagi merasa tenggelam karenanya.
Saya belajar mengalir.

Comments