Jam Tiga Pagi dan Roti yang Tidak Saya Buat
Sebuah pembacaan personal tentang rutinitas, jalan yang tidak diambil, dan pertanyaan yang tidak terjawab
I. Menemukan Tulisan di Jam yang Salah
Saya menemukan tulisan itu jam 23.47 malam, ketika seharusnya saya tidur.
Ada ironi kecil di sana—membaca cerita tentang pria yang bangun jam 02.45 pagi tanpa alarm, sementara saya bahkan belum bisa memejamkan mata jam hampir tengah malam. Kamar gelap, hanya cahaya biru dari layar laptop yang menyinari wajah. AC berdenging. Dari sebelah, tetangga masih menonton televisi—volume tinggi, suara tawa canned dari sitkom yang tidak saya kenal. Dari jalan raya, sesekali klakson. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan malam ini, saya juga tidak.
Sudah mencoba sejak jam 22.00. Berbaring. Menatap langit-langit. Menghitung napas—teknik yang saya baca dari artikel kesehatan mental yang lupa judulnya. Tidak berhasil. Pikiran berputar: deadline presentasi Senin, email yang belum dibalas, tagihan kartu kredit yang jatuh tempo minggu depan, percakapan canggung dengan rekan kerja siang tadi yang masih terasa mengganjal. Pikiran-pikiran kecil yang menjadi besar di malam hari.
Akhirnya menyerah. Duduk di kasur, buka laptop. Tidak ada rencana—hanya scrolling tanpa tujuan. Instagram pertama. Feed penuh foto liburan orang, makanan estetik, kutipan motivasi dengan font sans-serif di atas latar langit senja. Scroll. Scroll. Scroll. Bosan. Pindah ke Twitter—atau X, atau apapun sekarang namanya. Timeline penuh debat politik, cuitan sarkastik, thread panjang yang tidak selesai saya baca.
Entah bagaimana—saya tidak ingat detailnya—jari saya menekan link yang membawa ke blog. Halaman loading lambat. Latar putih polos. Font sederhana. Judul muncul: "Roti Jam Lima Pagi."
Pikiran pertama: cerpen lagi. Skip saja.
Tapi mata saya terpaku pada kalimat pertama: "Pak Budi bangun jam 02.45 tanpa alarm." Ada sesuatu di sana—spesifitas waktu, detail kecil tentang alarm yang tidak ada. Saya scroll ke bawah. Paragraf kedua. Ketiga. Deskripsi tentang air dingin di wajah. Cermin. Lorong gelap. Lampu yang berkedip dua kali sebelum menyala.
Saya berhenti scrolling.
Ada resistensi di awal—resistensi pembaca yang skeptis, yang sudah terlalu sering membaca cerita dengan formula sama: karakter biasa, kehidupan sederhana, pelajaran hidup di akhir, resolusi yang terlalu rapi. Saya membuat checklist mental: pasti ada turning point dramatis. Pasti ada konflik besar. Pasti ada momen epifani—pewahyuan mendadak tentang makna hidup—yang terasa dipaksakan.
Tapi saya tetap membaca. Mungkin karena tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan jam 23.47 malam. Mungkin karena saya menunda-nunda deadline yang sebenarnya bisa dikerjakan. Atau mungkin karena ada sesuatu dalam ritme tulisan itu—cara penulis mendeskripsikan hal-hal kecil dengan begitu serius—yang membuat saya ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Saya pindah dari kasur ke meja kerja. Ritual kecil untuk membaca serius. Ambil mug berisi kopi dingin—sisa dari pagi tadi, sudah tidak layak diminum tapi saya teguk juga. Nyalakan lampu meja. Cahaya kuning, lebih hangat dari cahaya biru laptop. Atur posisi duduk. Mulai membaca dari awal lagi, kali ini pelan.
Paragraf demi paragraf masuk. Detail tentang menguleni adonan—tekan, lipat, putar. Tentang adzan subuh dari tiga masjid yang tidak sinkron tapi entah kenapa harmonis. Tentang roti yang mengembang sempurna. Tentang pelanggan yang datang—Mbak Sari, Pak Joko, Dinda. Tentang telepon dari anak yang jarang pulang. Tentang arthritis yang membuat tangan sakit tapi masih bisa bergerak. Tentang hari yang baik—sangat baik—meski tidak ada yang istimewa terjadi.
Saya tidak sadar sudah berapa lama membaca sampai melihat jam di sudut layar: 00.23. Tiga puluh enam menit. Tulisan itu tidak panjang, tapi saya membacanya lambat, seperti menikmati makanan yang tidak ingin cepat habis.
Selesai membaca, saya diam. Menatap layar. Cursor berkedip di address bar. Saya scroll ke atas, baca lagi dari awal. Kali ini lebih lambat. Memperhatikan detail yang saya lewatkan: cara Pak Budi berbisik "Selamat pagi" pada dirinya sendiri. Cara dia bilang "Ayo, hari ini juga. Seperti kemarin. Seperti besok" pada tangannya yang kaku. Cara dia duduk sendirian di bangku teras dan merasa hari itu baik—sangat baik—tanpa kualifikasi, tanpa "tapi", tanpa "meski".
Ada sesuatu yang nyangkut di dada. Bukan sedih. Bukan iri. Atau mungkin keduanya. Atau mungkin sesuatu yang tidak punya nama yang pas. Rasa aneh ketika membaca tentang kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan saya, tapi entah kenapa terasa familiar. Seperti melihat foto tempat yang tidak pernah saya kunjungi tapi merasa pernah ada di sana.
Pertanyaan mulai muncul—pertanyaan yang tidak diminta, yang muncul sendiri seperti adonan yang mengembang:
Kenapa tulisan tentang rutinitas bisa bikin saya merasa... apa? Ditinggalkan?
Kapan terakhir kali saya punya ritual yang terasa sakral seperti Pak Budi menguleni adonan?
Kenapa saya merasa sedih membaca tentang orang yang bahagia dengan kehidupan sederhana?
Saya tidak bisa langsung tidur setelah baca ini. Perlu memproses. Dan cara saya memproses adalah menulis. Bukan review akademis—saya bukan kritikus sastra. Bukan analisis mendalam—saya bukan ahli narasi. Ini personal. Ini tentang tulisan itu dan tentang saya. Tentang apa yang tulisan itu picu dalam diri saya yang tidak saya sadari sebelumnya.
Anda bisa membaca tulisan aslinya di sini. Saya sarankan baca dulu sebelum lanjut. Atau tidak—mungkin resonansi saya tidak akan sama dengan resonansi Anda. Mungkin Anda tidak akan merasakan apa-apa. Atau mungkin Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Tapi saya perlu menulis ini. Untuk diri saya sendiri. Untuk mencoba mengerti kenapa cerita tentang tukang roti di Jatibening bisa membuat saya—seorang analis pemasaran di Jakarta yang tidak pernah membuat roti dalam hidupnya—merasa begitu... kosong.
II. Tubuh yang Mengingat, Alarm yang Tidak Pernah Cukup
Ada satu kalimat di awal tulisan yang membuat saya berhenti membaca dan hanya menatap layar:
"Tubuh sudah tahu—sudah tiga puluh delapan tahun tahu—kapan harus membuka mata."
Tiga puluh delapan tahun. Bukan sekadar lama—itu entire adult life seseorang. Bayangkan: setiap hari, selama hampir empat dekade, tubuh Pak Budi bangun di waktu yang sama. Tidak perlu alarm. Tidak perlu reminder. Tubuh tahu. Otot tahu. Sel-sel tahu. Ada semacam kepercayaan—trust—yang luar biasa di sana. Kepercayaan pada tubuh, pada ritme internal, pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebiasaan.
Dalam ilmu tidur—penelitian tentang siklus bangun dan tidur yang natural—ada istilah ritme sirkadian: jam biologis internal yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan kapan terjaga. Tubuh kita sebenarnya punya kapasitas untuk "tahu" waktu tanpa bantuan eksternal. Tapi kebanyakan dari kita—termasuk saya—sudah terlalu lama hidup melawan ritme itu. Kita tidur terlalu larut. Bangun terlalu dipaksa. Sampai tubuh tidak lagi tahu kapan harus istirahat dan kapan harus bergerak.
Saya tidak punya hubungan seperti itu dengan tubuh saya.
Alarm pertama: 05.30 pagi. Bunyi beep-beep-beep keras dari handphone yang saya taruh di seberang kamar—taktik supaya harus berdiri untuk mematikan. Saya membuka mata. Gelap. Dingin. AC masih menyala. Pikiran pertama: lima menit lagi. Jalan setengah sadar ke arah suara, pencet tombol snooze, kembali ke kasur.
Alarm kedua: 05.45. Beep-beep-beep lagi. Kali ini lebih mengganggu karena sudah mulai mimpi. Bangun lagi. Matikan lagi. Kembali tidur dengan rasa bersalah kecil—tahu bahwa ini kebiasaan buruk, tapi tetap lakukan.
Alarm ketiga: 06.00. Bunyi yang sama. Tapi sekarang disertai notifikasi dari aplikasi: "Anda sudah snooze 2 kali. Bangunlah!" Dengan font tebal dan emotikon wajah marah. Saya buka mata—kali ini tidak menutup lagi. Berdiri dengan perasaan kalah. Berjalan ke kamar mandi dengan mata masih sembab. Lihat cermin. Wajah bengkak. Rambut acak-acakan. Mata merah.
Tidak ada bisikan "Selamat pagi" seperti Pak Budi. Tidak ada sapaan lembut pada diri sendiri. Hanya: "Sial. Telat lagi."
Saya tidak pernah punya hubungan dengan pagi seperti Pak Budi. Bagi saya, pagi adalah musuh—sesuatu yang harus dilawan, ditunda, di-snooze sampai benar-benar tidak bisa lagi. Saya bangun bukan karena tubuh tahu. Saya bangun karena alarm memaksa. Karena deadline kantor menunggu. Karena kalau tidak bangun sekarang, akan telat dan akan kena tegur atasan.
Ada rasa kalah kecil setiap pagi. Rasa bahwa hari ini dimulai bukan dari pilihan, tapi dari keharusan. Bukan dari "ayo, hari ini juga, seperti kemarin, seperti besok"—tapi dari "harus bangun sekarang atau nanti kena masalah."
D—teman kantor, umur 34 tahun, meja di sebelah saya—pernah bilang sambil ketawa: "Lo tuh kayak orang yang bangun cuma biar bisa tidur lagi." Kami sedang ngobrol di pantry, Selasa pagi, sambil nunggu air panas untuk kopi. Dia bercanda. Tapi lelucon itu nyangkut. Karena benar. Saya bangun untuk bertahan—survive—hari ini. Bukan untuk menyambut hari ini. Apalagi embrace. Apalagi mensyukuri.
Pak Budi bangun untuk membuat kehangatan. Saya bangun untuk menghindari telat.
Perbedaan itu kecil tapi fundamental.
Di bagian awal tulisan, ada momen ketika Pak Budi menyalakan oven: "Momen ketika dunia masih dingin tapi dia sudah membuat kehangatan. Seperti menyalakan matahari kecil di tokonya sendiri."
Metafora itu—menyalakan matahari kecil—begitu indah sampai terasa menyakitkan untuk dibaca. Karena membuat saya sadar: saya tidak pernah jadi orang yang menyalakan matahari. Saya orang yang menunggu kehangatan sudah tersedia. Saya orang yang mencari sumber panas yang sudah ada—dispenser air panas, AC yang diatur orang lain, lampu kantor yang menyala otomatis jam 08.00. Hidup saya adalah serangkaian kehangatan yang dipinjam—borrowed warmth. Tidak ada yang saya ciptakan dari nol.
Rutinitas pagi saya: bangun (terpaksa), mandi (cepat, air hangat dari pemanas listrik yang sudah terpasang), sarapan (roti isi dari minimarket, tinggal makan), berangkat (naik ojek online, tinggal pesan lewat aplikasi), tiba kantor (gedung sudah bersih, AC sudah dingin, lift sudah jalan). Semua infrastruktur kehangatan sudah ada. Saya tinggal pakai.
Jam 09.15—biasanya telat 15 menit dari jam masuk resmi—saya langsung ke pantry. Ambil sachet kopi instan dari laci. Sobek. Tuang ke gelas. Tekan tombol merah di dispenser. Air panas keluar. Aduk. Kopi jadi. Satu menit. Efisien. Tidak ada proses. Tidak ada ritual. Tidak ada "momen" seperti Pak Budi menunggu adonan mengembang atau mendengar suara oven mendesis.
R—partner kerja, perempuan, 29 tahun, meja depan saya—sering bilang sambil senyum: "Lo kok kayak vampir sih? Baru hidup setelah kopi." Dia bercanda sambil menatap layar komputernya, jari-jari mengetik laporan. Saya ketawa. Ha-ha. Tapi dalam hati: iya, memang. Saya vampir. Saya parasit energi. Saya ambil dari lingkungan, tidak memproduksi sendiri.
Pak Budi menciptakan kehangatan untuk orang lain—roti untuk Mbak Sari yang beli untuk anaknya, untuk Dinda yang beli sebelum sekolah, untuk Pak Joko yang duduk di teras sambil minum kopi. Dia producer. Dia creator. Dia yang menyalakan matahari kecil saat dunia masih gelap.
Saya consumer. Saya yang menunggu orang lain menyalakan matahari, baru saya datang menikmati hangatnya.
Ada hierarchy kecil di sana—tidak eksplisit, tidak dibicarakan, tapi terasa. Producer lebih... apa ya? Lebih bermakna? Lebih penting? Lebih hidup? Saya tidak tahu kata yang tepat. Tapi ada rasa lesser—rasa kurang—ketika menyadari bahwa hidup saya adalah serangkaian konsumsi dari apa yang orang lain produksi.
Kapan terakhir kali saya membuat sesuatu dari nol?
Bukan deliver presentasi—itu hanya mengolah data yang sudah ada.
Bukan kirim email—itu hanya menyusun kata untuk kepentingan kerja.
Bukan complete task—itu hanya menjalankan instruksi.
Tapi membuat sesuatu yang tangible. Yang bisa dipegang. Yang bisa dimakan. Yang bisa dirasakan orang lain sebagai kehangatan. Sesuatu yang kalau hilang, akan terasa absen.
Tidak ada jawaban.
Atau jawaban-nya: tidak pernah.
III. Piano yang Tidak Pernah Saya Mainkan
Di tengah cerita, istri Pak Budi—karakter yang tidak muncul tapi kehadirannya terasa—pernah bilang: "Kamu menguleni kayak orang main piano."
Kalimat itu sederhana. Tapi ada kedalaman di sana yang membuat saya membaca ulang beberapa kali. Piano—alat musik, sesuatu yang identik dengan seni, dengan kultur tinggi, dengan orang-orang yang "berbudaya". Menguleni adonan—kerja manual, repetitif, hal yang dianggap blue collar, tidak glamor. Tapi istrinya tidak bilang "kamu menguleni dengan baik" atau "kamu menguleni dengan telaten". Dia bilang: kayak main piano.
Ada equalizing di sana. Ada pengakuan bahwa pekerjaan tangan—kerja yang kasar, yang membuat jari kaku dan punggung pegal—bisa setara dengan seni. Bahwa ritme tekan-lipat-putar bisa se-indah melodi. Bahwa proses mengubah tepung-air-ragi menjadi roti bisa se-transformatif dengan mengubah not menjadi musik.
Pak Budi tidak pernah jadi pianis. Tulisan tidak menjelaskan kenapa—mungkin tidak ada kesempatan, mungkin tidak ada uang untuk les, mungkin hidup punya rencana lain. Tapi dia menemukan piano-nya di tempat lain: di meja marmer tempat menguleni, di oven yang mendesis, di loyang yang berisi adonan yang mengembang sempurna. Pianonnya bukan terbuat dari tuts hitam-putih. Pianonnya terbuat dari tepung dan waktu.
Dalam buku karya Matthew Crawford—seorang filsuf Amerika yang menulis tentang nilai kerja manual—ada konsep bahwa pekerjaan tangan, craftsmanship atau keahlian tangan, bukan sekadar "kerja". Itu bisa jadi bentuk meditasi. Bentuk kontemplasi. Bentuk untuk fully present di dunia—hadir sepenuhnya dalam momen, tidak terbagi-bagi oleh pikiran tentang masa lalu atau kecemasan tentang masa depan. Tangan yang bergerak dengan ritme yang sama setiap hari menciptakan semacam alur—flow—yang membuat pikiran tenang dan tubuh tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa perlu instruksi sadar.
Mungkin itulah yang terjadi pada Pak Budi setiap pagi jam tiga dini hari.
Saya tidak punya piano.
Flashback: umur 23 tahun. Tujuh tahun lalu. Ruang tamu rumah orang tua. Minggu sore. Saya baru lulus kuliah. Ijazah belum dicetak tapi sudah dinyatakan lulus. Duduk di sofa cokelat tua yang sama sejak saya SMP. Ibu duduk di sebelah, lipat tangan di pangkuan.
"Jadi kamu mau kerja di mana?" tanya Ibu. Nada suara netral tapi saya tahu itu pertanyaan penting.
"Belum tahu, Bu. Masih apply sana-sini."
"Yang penting stabil ya. Jangan yang aneh-aneh."
Yang aneh-aneh.
Kode untuk: jangan jadi penulis. Jangan jadi fotografer. Jangan pilih pekerjaan yang "tidak jelas". Tidak ada yang eksplisit. Tidak ada larangan terang-terangan. Tapi frasa "yang aneh-aneh" sudah cukup jelas mengkomunikasikan apa yang Ibu maksud: cari pekerjaan yang aman. Yang ada gajinya pasti setiap bulan. Yang ada jenjang karir. Yang bisa dijelaskan ke tetangga tanpa harus panjang lebar.
Saya diam. Mengangguk.
Dalam hati, saya tahu apa yang saya mau: menulis. Saya punya blog kecil waktu itu—bukan yang ramai, hanya beberapa puluh pengunjung per hari, tapi saya menulis dengan serius. Cerpen. Essay personal. Kadang puisi meski saya tidak terlalu percaya diri dengan puisi. Ada kepuasan aneh setiap kali menekan tombol "publish"—rasa bahwa ada sesuatu dari dalam diri saya yang sekarang ada di dunia, yang bisa dibaca orang lain, yang punya kemungkinan untuk resonate dengan someone somewhere.
Tapi itu bukan "pekerjaan". Itu "hobi". Itu sesuatu yang dilakukan kalau ada waktu luang, bukan sesuatu yang bisa menghidupi. Bukan sesuatu yang bisa saya bilang ke Ibu: "Bu, aku mau jadi penulis." Karena pertanyaan selanjutnya pasti: "Penulis apa? Gajinya berapa? Kantor di mana?"
Jadi saya diam. Dan mulai apply kerja "normal".
Fast forward: sekarang. Umur 30 tahun. Meja kerja di kantor, Rabu sore, jam 16.00. Layar komputer menampilkan Excel spreadsheet. Kolom berisi data penjualan produk per region. Baris berisi bulan. Cell penuh angka. Saya membuat pivot table—alat untuk mengolah data—merangkum informasi dari ribuan baris menjadi beberapa grafik yang mudah dibaca. Warna-warni. Bar chart biru. Line graph merah. Pie chart yang menunjukkan market share per kategori.
Ini pekerjaan saya: Marketing Analyst di perusahaan barang konsumsi—Fast Moving Consumer Goods, istilah untuk produk yang cepat laku seperti sabun, sampo, makanan ringan. Saya analisis data. Buat dashboard—tampilan visual dari data. Monthly report—laporan bulanan. Presentasi ke manajemen. Repeat. Bulan depan sama. Bulan depan lagi sama.
Pekerjaan saya tidak buruk. Gaji cukup untuk sewa apartemen, makan, sesekali nonton film atau makan di restoran yang tidak terlalu mahal. Benefit oke—asuransi kesehatan, cuti tahunan dua belas hari. Lingkungan kerja tidak toxic—tidak ada boss yang berteriak atau rekan kerja yang backstabbing. Saya bahkan kadang enjoy. Ada kepuasan kecil saat dashboard yang saya buat dipakai untuk keputusan strategis. Saat Mr. T—atasan saya, umur 45 tahun—bilang: "Bagus, data lo membantu kita pivot arah marketing bulan ini."
Tapi apakah ini piano saya?
Apakah ini yang membuat saya bangun jam 02.45 tanpa alarm—kalau seandainya saya bisa?
Tidak.
Saya tidak pernah mimpi tentang spreadsheet. Saya tidak pernah bangun tengah malam excited karena kepikiran cara baru untuk visualisasi data. Saya tidak pernah merasa bahwa hidup saya akan tidak lengkap kalau tidak bisa buat grafik batang hari ini.
Sabtu siang. Coffee shop dekat apartemen. Saya ketemu A—teman kuliah, sekarang jadi desainer grafis. Kami pesan kopi—dia Americano, saya Latte. Duduk di meja sudut dekat jendela. A cerita tentang project barunya: rebranding startup teknologi. Logo baru. Warna baru. Identitas visual baru.
Matanya berbinar. Saya melihat itu—literally berbinar, bukan sekadar ungkapan. Ada excitement yang genuine di wajahnya. Tangannya bergerak-gerak menjelaskan konsep, menggambar di udara, menunjukkan sketch di iPad.
"Gue semalam mimpi logo, terus langsung bangun jam tiga pagi buat sketsa. Gila kan? Otak gue kayak nggak mau berhenti mikir. Terus paginya gue refine lagi, dan pas gue present ke klien tadi, mereka langsung approve. Satu take. No revision. Mereka bilang ini exactly yang mereka cari."
A tertawa. Senang. Puas. Hidup.
Saya bilang: "Iya, gila."
Tapi dalam hati: iri.
Bukan iri dalam arti dengki atau jahat. Iri dalam arti: ingin punya itu juga. Ingin punya sesuatu yang membuat saya bangun jam tiga pagi karena excited, bukan karena insomnia. Ingin punya pekerjaan yang terasa seperti piano—seperti sesuatu yang kalau tidak dimainkan, hidup terasa kurang.
Saya bahkan tidak tahu apa piano saya. Atau lebih buruk: saya tahu—menulis—tapi saya abandon. Saya tinggalkan. Blog terakhir update dua tahun lalu. Cerpen terakhir ditulis... saya tidak ingat. Tiga tahun? Empat? File Word di folder "Writing" penuh draft yang tidak selesai. Ide yang tidak dikembangkan. Kalimat pertama yang bagus tapi tidak ada kalimat kedua.
Kenapa berhenti?
Karena tidak "realistis". Karena tidak ada jaminan. Karena takut gagal. Karena lebih aman kerja 9-to-5 dengan gaji pasti daripada mengejar sesuatu yang mungkin tidak kemana-mana. Karena Ibu bilang "jangan yang aneh-aneh" dan saya nurut.
Di bagian lain tulisan, Pak Budi ngobrol dengan Pak Joko—teman lama, pensiunan guru—di teras toko. Mereka diam sebentar, kemudian Pak Joko tanya: "Kamu ingat tidak, dulu kita SMP satu sekolah? Kamu jago main keyboard. Terus kenapa malah jadi tukang roti?"
Jawaban Pak Budi sederhana tapi menusuk: "Karena hidup punya rencana sendiri, Pak. Dan ternyata rencana itu lebih baik dari rencana saya."
Lebih baik.
Bukan "sama baiknya". Bukan "cukup baik". Bukan "yasudahlah". LEBIH baik.
Bagaimana seseorang bisa sampai di titik itu? Di mana dia bisa bilang—dengan jujur, tanpa kepahitan, tanpa penyesalan—bahwa jalan yang dia tempuh, meski bukan yang dia pilih atau impikan, ternyata lebih baik?
Saya belum bisa bilang itu.
Umur 20, saya menulis di notebook bersampul cokelat—notebook yang sekarang entah di mana: "Goals lima tahun ke depan." Di bawahnya, list:
Umur 25: sudah publish cerpen di media besar—Kompas, Tempo, atau majalah sastra.
Umur 27: punya blog dengan pembaca stabil, minimal seribu visitor per hari.
Umur 30: bisa hidup dari menulis. Freelance atau penulis tetap di media. Tidak perlu kaya, cukup bisa bayar sewa dan makan.
Reality check umur 30:
Tidak ada cerpen published di media mana pun. Bahkan tidak pernah mengirim—terlalu takut ditolak.
Blog terakhir update dua tahun lalu. Visitor per hari: nol. Karena tidak ada konten baru.
Hidup dari menulis? Tidak. Hidup dari analisis data marketing. Hidup dari Excel dan PowerPoint. Hidup dari pekerjaan yang aman, stabil, dan tidak ada hubungannya dengan impian umur 20.
Apakah saya bisa bilang, seperti Pak Budi, bahwa ternyata lebih baik?
Jujur: belum bisa.
Mungkin itu perbedaan antara umur 30 dan umur 60-an. Pak Budi sudah punya tiga puluh delapan tahun untuk membuat damai dengan jalan yang dia tempuh. Tiga puluh delapan tahun untuk menemukan makna dalam menguleni adonan, dalam roti yang matang sempurna, dalam pelanggan yang datang setiap pagi. Tiga puluh delapan tahun untuk sampai di titik di mana dia bisa bilang "lebih baik" dan benar-benar merasakannya, bukan hanya mengucapkannya.
Saya baru tujuh tahun. Tujuh tahun sejak lulus kuliah dan memilih jalan "realistis". Mungkin saya perlu tiga puluh satu tahun lagi untuk bisa bilang "lebih baik" tanpa rasa bohong di dada. Atau mungkin tidak akan pernah. Atau mungkin di suatu titik, saya akan berhenti membandingkan dan hanya... hidup. Seperti Pak Budi yang tidak lagi memikirkan piano yang tidak dia mainkan, karena dia sudah menemukan musik di tempat lain.
Tapi hari ini, jam 01.23 dini hari—saya melihat jam lagi setelah menulis beberapa paragraf ini—saya masih stuck. Masih terjebak antara hidup yang saya jalani dan hidup alternatif yang tidak pernah terjadi. Masih membayangkan versi saya yang lain—versi yang nekad, yang kirim cerpen meski takut ditolak, yang terus menulis meski tidak ada yang baca, yang sekarang mungkin sudah punya buku atau setidaknya punya portfolio yang bisa dibanggakan.
Pak Budi present dalam hidupnya. Saya masih absent—hadir secara fisik tapi pikiran berkeliaran di kemungkinan-kemungkinan yang tidak terjadi.
IV. Roti yang Sampai ke Anak yang Tidak Dikenal
Ada momen di tengah tulisan yang membuat saya berhenti dan menatap layar lebih lama dari biasanya.
Mbak Sari—pelanggan pertama, yang datang jam 05.20 setiap pagi—bilang ke Pak Budi: "Anak saya kemarin bilang, roti dari Pak Budi paling enak. Dia bilang, 'Ibu, besok beli lagi ya.' Padahal biasanya dia susah makan pagi."
Pak Budi tidak kenal anak itu. Tidak tahu namanya. Tidak tahu umurnya. Tidak tahu wajahnya. Tapi pekerjaan dia—roti yang dia buat jam tiga dini hari, yang dia uleni dengan tangan yang mulai sakit karena arthritis, yang dia panggang dengan oven yang sama selama tiga puluh delapan tahun—sampai ke mulut anak kecil yang tidak dia kenal. Dan membuat anak itu senang. Membuat anak itu mau makan pagi. Membuat anak itu bilang "besok beli lagi ya" dengan excited.
Itu bukan pencapaian besar. Tidak akan masuk berita. Tidak ada award. Tidak ada standing ovation. Tapi ada dampak—impact—yang real, yang terasa, yang mengubah pagi anak kecil itu jadi sedikit lebih baik.
Dalam budaya Jepang, ada konsep yang disebut ikigai—alasan untuk bangun pagi, alasan untuk hidup. Ikigai terletak di pertemuan empat hal: apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dunia butuhkan, dan apa yang bisa menghidupi kita. Kalau keempat lingkaran itu bertemu di satu titik, di situlah ikigai berada. Di situlah seseorang menemukan pekerjaan yang bukan hanya pekerjaan, tapi calling—panggilan hidup.
Pak Budi sepertinya menemukan itu. Roti yang dia buat adalah sesuatu yang dia cintai—terlihat dari cara dia mendeskripsikan proses menguleni, dari cara dia tersenyum saat adonan mengembang sempurna. Sesuatu yang dia kuasai—tiga puluh delapan tahun pengalaman, tangan yang tahu takaran tanpa perlu resep. Sesuatu yang dunia—atau setidaknya Jatibening—butuhkan: roti untuk sarapan Mbak Sari, untuk Dinda sebelum sekolah, untuk Pak Joko yang duduk di teras. Dan sesuatu yang menghidupi dia.
Empat lingkaran bertemu. Ikigai tercapai.
Saya tidak punya itu.
Kamis pagi. Zoom meeting—pertemuan lewat video call—untuk quarterly review, evaluasi triwulanan. Layar laptop penuh kotak-kotak wajah: Mr. T di kotak besar karena dia host, saya di kotak kecil di pojok bersama belasan orang lain dari tim marketing. Saya share screen—berbagi tampilan layar saya—menunjukkan dashboard yang saya buat bulan ini. Grafik naik-turun. Angka merah untuk yang turun, hijau untuk yang naik. Insight di slide terakhir: "Rekomendasi: pivot strategi campaign ke segment milenial karena data menunjukkan growth potential di sana."
Mr. T bilang: "Dashboard lo bulan ini helpful banget. Kita bisa pivot strategy karena data lo. Good job."
Saya bilang: "Thank you, Pak." Tersenyum di kamera. Professional smile.
Meeting selesai. Saya tutup Zoom. Menatap layar yang sekarang cuma menampilkan desktop—wallpaper foto gunung yang saya download dari internet, bukan foto saya sendiri karena saya tidak pernah hiking.
Pekerjaan saya punya dampak. Data saya mempengaruhi keputusan. Strategi berubah karena analisis saya. Revenue perusahaan—mungkin—naik sedikit karena rekomendasi saya dijalankan.
Tapi entah kenapa, itu tidak terasa seperti roti Pak Budi yang sampai ke anak kecil.
Itu terasa... abstrak. Jauh. Tidak ada wajah. Tidak ada "besok beli lagi ya, Bu." Tidak ada senyum anak kecil yang bangun pagi dan senang karena ada roti cokelat keju untuk sarapan.
Yang ada: angka di spreadsheet yang mempengaruhi angka di laporan pendapatan yang mempengaruhi angka di bonus eksekutif. Chain panjang dari data ke keputusan ke profit ke... siapa? Shareholder—pemegang saham yang tidak saya kenal. Direksi yang wajahnya hanya saya lihat di foto resmi website perusahaan. Konsumen yang membeli produk kami tapi tidak pernah tahu bahwa ada seorang analyst bernama saya di belakangnya.
Minggu sore. Video call dengan L—adik sepupu, anak perempuan, umur 8 tahun. Dia bosan di rumah, Ibu saya suruh saya temenin ngobrol virtual. Wajahnya muncul di layar, dengan background kamar penuh boneka.
"Kak, kerjanya ngapain sih?" tanya L, polos.
"Kakak... analisis data."
"Apa itu?"
Saya berpikir sebentar. Bagaimana menjelaskan ke anak umur 8 tahun apa itu analisis data?
"Kakak lihat angka-angka, terus bikin grafik. Kayak chart yang warna-warni gitu."
"Oh." L diam sebentar. "Kayak PR Matematika?"
"...iya, mirip lah."
"Boring ya."
Out of mouths of babes—dari mulut anak-anak keluar kejujuran. L tidak bermaksud jahat. Dia hanya jujur. Dan dia benar. Pekerjaan saya memang... membosankan. Setidaknya kalau dijelaskan ke anak 8 tahun. Atau mungkin kalau dijelaskan ke siapa pun yang tidak bekerja di industri yang sama.
Tidak ada magic di pekerjaan saya. Tidak ada transformasi tepung-air-ragi jadi roti yang hangat dan wangi. Tidak ada momen "dan kemudian oven dibuka dan roti keluar sempurna dan seluruh toko berbau manis". Hanya: data masuk, data diolah, chart keluar, meeting, presentasi, revisi, finalisasi, kirim, tunggu feedback, repeat.
Kalau besok saya berhenti kerja, apa yang akan hilang dari dunia?
Dashboard akan dibuat orang lain. Laporan akan tetap ada. Keputusan strategis akan tetap diambil berdasarkan data—hanya data dari orang lain. Revenue perusahaan akan tetap jalan. Produk akan tetap dijual. Konsumen akan tetap beli.
Saya replaceable—bisa digantikan. Saya tahu itu. Setiap karyawan korporat tahu itu. Kita semua replaceable. Ada backup plan. Ada orang lain yang bisa lakukan pekerjaan kita kalau kita tiba-tiba resign atau sakit atau... apapun.
Pak Budi, dengan roti jam lima pagi-nya, terasa... irreplaceable. Tidak bisa digantikan. Setidaknya untuk anak kecil yang suka roti cokelat keju. Setidaknya untuk Mbak Sari yang beli dua puluh roti setiap pagi. Setidaknya untuk Pak Joko yang duduk di teras sambil minum kopi dan merasa hari ini baik karena ada teman lama yang menemani diam.
Mungkin itu perbedaan antara pekerjaan yang punya soul—jiwa—dan pekerjaan yang hanya... pekerjaan.
Di bagian lain tulisan, ada deskripsi tentang tangan Pak Budi: "Arthritis sudah mulai. Tapi dia gerakkan pelan, buka tutup telapak, sampai sendi-sendi mengingat bagaimana rasanya lentur."
Pak Budi tua. Tangannya sakit. Sendi-sendinya kaku. Setiap pagi dia harus memanaskan tangan dulu, gerakkan pelan-pelan, sampai bisa berfungsi lagi. Dan dia tahu—tulisan dengan jelas bilang dia tahu—bahwa besok mungkin lebih sakit. Lusa mungkin lebih kaku. Suatu hari, mungkin dia tidak bisa lagi menguleni.
Tapi dia tidak complain. Tidak ada self-pity—rasa kasihan pada diri sendiri. Tidak ada "kenapa saya" atau "tidak adil". Dia hanya: acknowledge. Mengakui. Menerima. Dan bersyukur untuk hari ini—hari di mana tangan masih bisa bergerak, meski sakit.
Saya umur 30. Tidak ada arthritis. Tangan saya tidak sakit. Jari-jari saya masih bisa mengetik cepat tanpa kaku. Tubuh saya masih—technically—muda. Tidak ada penyakit kronis. Tidak ada disabilitas. Saya sehat.
Tapi saya tidak pernah merasa bersyukur untuk itu.
Senin pagi. Bangun dengan punggung pegal—mungkin posisi tidur salah, atau kasur sudah mulai kempes. Saya bilang—keras, sendiri di kamar: "Aduh, tua."
Padahal 30. Tidak benar-benar tua. Tapi sudah merasa entitled—merasa berhak—untuk mengeluh. Sudah merasa bahwa tubuh yang tidak sempurna adalah sesuatu yang pantas dikomplain.
Pak Budi benar-benar sakit—arthritis, sendi kaku, tangan gemetar—tapi dia tetap bergerak. Tetap menguleni. Tetap membuat roti. Dan dia bilang "terima kasih" untuk tangan yang sakit tapi masih berfungsi.
Saya tidak benar-benar sakit—hanya pegal biasa—tapi saya mengeluh. Saya bilang "aduh" untuk punggung yang cuma kaku sebentar dan hilang setelah mandi air hangat.
Ada privilege di situ. Privilege untuk menganggap fungsi tubuh sebagai given—sesuatu yang sudah seharusnya ada, bawaan, hak—bukan sebagai gift, hadiah. Privilege untuk baru appreciate health—menghargai kesehatan—setelah kehilangan. Privilege untuk tidak pernah mikir tentang tangan sampai tangan tidak bisa bergerak.
Pak Budi, di usia 60-an dengan arthritis, lebih bersyukur untuk tangan yang sakit tapi masih bisa bergerak daripada saya di usia 30 dengan tangan yang fine—baik-baik saja.
Itu memalukan untuk diakui. Tapi itu real.
Klimaks emosional tulisan ada di akhir hari Pak Budi. Jam 20.00, toko sudah tutup. Dia duduk di bangku teras—tempat yang sama di mana Pak Joko duduk pagi tadi. Sendirian. Menatap jalan raya yang masih ramai. Motor, angkot, ojek online, orang pulang kerja. Langit gelap tapi kota terang.
Tangannya sakit. Kakinya pegal. Punggungnya kaku. Tapi dia tersenyum kecil.
Dan dia bilang—dalam hati, tidak keras: "Hari ini baik. Sangat baik."
Tidak ada kualifikasi. Tidak ada "tapi". Tidak ada "meski". Hanya: baik. Present tense. Hari INI. Bukan kemarin yang sudah lewat. Bukan besok yang belum datang. Hari ini.
Pak Budi tidak worry—tidak khawatir—tentang besok. Padahal dia acknowledge: besok tangannya mungkin lebih sakit, pelanggan mungkin sepi, cuaca mungkin buruk, oven mungkin rusak. Tapi dia tidak dwelling—tidak berkutat—di sana. Dia fully present—sepenuhnya hadir—di hari ini. Dan hari ini, dengan semua mundanity-nya, dengan semua rutinitas yang sama sejak tiga puluh delapan tahun lalu, baik.
Kapan terakhir kali saya bilang "hari ini baik" tanpa langsung mikir tentang: tapi deadline masih banyak, tapi besok harus meeting penting, tapi tabungan belum cukup buat beli barang yang saya mau, tapi karir stuck di posisi yang sama dua tahun, tapi... tapi... tapi?
Saya tidak ingat.
Atau mungkin tidak pernah.
V. Roti yang Tidak Saya Buat, Pagi yang Tidak Saya Sambut
Masih malam yang sama. Sekarang jam 01.52 dini hari—saya melihat jam di pojok layar laptop. Sudah dua jam sejak saya pertama kali menemukan tulisan itu. Dua jam scrolling, membaca, re-reading, menulis catatan mental, memproses sesuatu yang tidak saya minta untuk diproses tapi terjadi anyway.
Laptop masih terbuka di meja. Layar masih menyala—brightness sudah saya turunkan supaya tidak terlalu terang. AC masih bunyi dengungnya yang monoton. Tetangga sebelah sudah matikan TV—sekarang hening, hanya suara AC dan sesekali motor lewat dari jalan raya yang mulai sepi. Kamar gelap kecuali lampu meja yang menyala kuning-hangat di sudut.
Mug kopi sudah kosong. Saya tidak ingat kapan menghabiskannya. Entah tengah membaca atau tengah mikir atau tengah menatap kosong ke layar sambil mencoba articulate—mengartikulasikan, merumuskan—perasaan yang tidak punya nama jelas.
Saya menutup laptop. Perlahan. Suara klik kecil saat layar menyentuh keyboard. Ruangan jadi lebih gelap—hanya lampu meja sekarang. Saya bersandar di kursi. Menatap langit-langit. Ada retakan kecil di sudut, dekat AC. Sudah ada sejak saya pindah ke apartemen ini dua tahun lalu. Tidak pernah diperbaiki. Tidak cukup penting untuk dilaporkan ke building management.
Tidak ada epifani. Tidak ada momen "aha" di mana tiba-tiba semuanya jelas dan saya tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup saya. Tidak ada keputusan dramatis untuk quit pekerjaan besok pagi dan mulai menulis full time. Tidak ada rencana besar untuk bangun jam 02.45 dan menemukan ritual sakral seperti Pak Budi.
Tapi ada sesuatu yang bergeser. Kecil. Subtle—halus. Tapi ada.
Saya sekarang sadar—benar-benar sadar, bukan hanya tahu secara intelektual—bahwa saya tidak present. Bahwa saya hidup di autopilot: bangun (dengan alarm berulang), mandi, sarapan (roti isi dari minimarket), kerja (spreadsheet dan meeting), pulang, makan malam (pesan online), nonton sesuatu di laptop (serial yang lupa judulnya besok), tidur (atau mencoba tidur), repeat. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Tanpa benar-benar aware—menyadari—bahwa saya sedang hidup.
Saya sekarang tahu—acknowledge—bahwa saya masih stuck di jalan yang tidak saya ambil. Masih membandingkan hidup saya sekarang dengan versi alternatif di mana saya nekad jadi penulis, di mana saya kirim cerpen meski takut ditolak, di mana blog saya ramai dan saya bisa bilang "saya penulis" tanpa ragu. Versi itu tidak pernah terjadi. Tidak akan pernah terjadi. Tapi saya masih hidup di sana—setidaknya secara mental.
Saya sekarang realize—menyadari—bahwa gratitude saya conditional: bersyukur hanya kalau semuanya berjalan sempurna, kalau tidak ada masalah, kalau hari ini "sukses" menurut standar yang tidak jelas dari mana datangnya. Saya tidak pernah bilang "hari ini baik" untuk hari yang biasa-biasa saja. Untuk hari yang tidak ada achievement, tidak ada highlight, tidak ada momen Instagram-worthy. Hari yang hanya... hari.
Awareness ini tidak mengubah apa-apa secara konkret. Besok saya tetap akan bangun dengan alarm (mungkin masih di-snooze dua kali). Tetap akan buat kopi instan dari sachet. Tetap akan buka Excel dan buat dashboard. Tetap akan meeting Zoom dan present ke Mr. T. Tetap akan pulang dan pesan makan malam online. Rutinitas tidak berubah hanya karena saya baca satu tulisan tentang tukang roti di Jatibening.
Tapi mungkin perubahan bukan tentang grand gesture—gerakan besar yang dramatis. Mungkin perubahan itu seperti adonan yang mengembang: lambat, tidak terlihat kalau diperhatikan setiap detik, tapi setelah dua jam jadi dua kali lipat. Mungkin saya perlu dua jam untuk proses ini. Atau dua hari. Atau dua tahun. Atau dua puluh.
Mungkin saya tidak akan pernah jadi Pak Budi—tidak akan bangun jam 02.45, tidak akan punya tiga puluh delapan tahun muscle memory untuk apapun, tidak akan membuat sesuatu dengan tangan yang bisa dimakan orang lain. Tapi mungkin saya bisa pelan-pelan belajar untuk present. Untuk tidak hidup di versi alternatif yang tidak terjadi. Untuk bisa bilang "hari ini baik" dan mean it—benar-benar merasakannya.
Jam 05.30 pagi—sekarang benar-benar pagi, bukan dini hari lagi—saya buka laptop lagi. Tidak bisa tidur. Atau tidak mau tidur. Atau keduanya. Saya buka link tulisan itu lagi: Roti Jam Lima Pagi. Baca lagi. Untuk ketiga kalinya. Dan saya menemukan sesuatu yang saya lewatkan sebelumnya.
Di awal tulisan, setelah Pak Budi bangun dan cuci muka, dia berdiri di depan cermin. Rambut putih acak-acakan. Mata lelah tapi jernih. Dan dia bilang—bisik pelan: "Selamat pagi." Pada bayangan di cermin. Pada dirinya sendiri. Pada hari yang belum dimulai.
Selamat pagi.
Dua kata sederhana. Tapi ada gentleness—kelembutan—di sana. Ada kindness—kebaikan—untuk diri sendiri. Tidak ada harsh criticism—kritik keras. Tidak ada "ayo cepetan" atau "bangun dong masih ngantuk aja". Hanya: selamat pagi. Sapaan. Pengakuan. Bahwa hari baru dimulai dan saya—diri saya—ada di sini untuk menjalaninya.
Saya tidak pernah menyapa diri saya sendiri dengan kindness. Saya treat diri saya sebagai mesin yang harus berfungsi. Alarm berbunyi, saya harus bangun. Kerja menumpuk, saya harus selesai. Tubuh lelah, tapi harus tetap jalan karena ada deadline. Tidak ada "selamat pagi" atau "terima kasih sudah berusaha hari ini" atau "it's okay kalau hari ini tidak produktif". Hanya: perform. Deliver. Function.
Jam 06.00, alarm berbunyi. Seperti biasa. Beep-beep-beep. Saya buka mata. Gelap masih—langit baru mulai terang di timur. Dingin. AC masih menyala. Biasanya saya langsung pencet snooze. Tapi pagi ini—mungkin karena belum tidur sama sekali jadi tidak ada yang di-interrupt—saya berdiri. Jalan ke kamar mandi. Nyalakan lampu. Berdiri di depan cermin.
Wajah bengkak. Mata merah karena begadang. Rambut berantakan. Saya terlihat seperti orang yang tidak tidur semalam. Karena memang iya.
Saya coba. Pelan. Suara hampir tidak keluar. Bisikan kecil ke bayangan di cermin: "Selamat pagi."
Terasa absurd. Terasa awkward—canggung. Terasa seperti berbicara dengan orang lain yang bukan saya. Tapi juga terasa... less hostile. Kurang bermusuhan. Seperti untuk sedetik, saya tidak treat diri saya sebagai musuh yang harus dikalahkan atau mesin yang harus dipaksa jalan.
Hanya untuk sedetik. Kemudian pikiran lain masuk: "Okay sekarang harus mandi cepat karena nanti telat." Dan mode autopilot kembali.
Tapi sedetik itu ada. Dan mungkin itu cukup untuk hari ini.
Saya tidak akan jadi Pak Budi. Saya tahu itu. Saya tidak akan bangun jam 02.45 untuk membuat roti. Saya tidak akan punya tiga puluh delapan tahun untuk menemukan damai dengan jalan hidup yang tidak saya pilih. Saya mungkin akan tetap jadi marketing analyst. Tetap bangun dengan resentment—kebencian kecil—setiap pagi. Tetap consume warmth—menikmati kehangatan—yang orang lain buat, bukan menciptakan sendiri.
Tapi sekarang saya tahu bahwa ada cara lain untuk hidup. Ada orang-orang yang menemukan sacred—sakral—dalam mundane. Ada orang-orang yang bilang "hari ini baik" dan mean it. Ada orang-orang yang membuat damai dengan jalan yang tidak mereka pilih dan menemukan makna anyway—bagaimanapun juga.
Dan mungkin—hanya mungkin—knowing itu ada adalah langkah pertama.
Langkah untuk eventually, suatu hari, bisa bilang "selamat pagi" pada diri sendiri dan tidak merasa absurd.
Langkah untuk bisa bilang "hari ini baik" tanpa immediate mental list of "tapi ini masih kurang" atau "besok harus lebih baik".
Langkah untuk bisa accept—menerima—bahwa hidup ini, dengan semua spreadsheet-nya, dengan semua deadline-nya, dengan semua jalan yang tidak saya pilih, adalah hidup yang cukup. Mungkin tidak sempurna. Mungkin tidak sesuai rencana umur 20. Tapi cukup.
Pak Budi tidak akan pernah tahu bahwa tulisan tentang dia—atau fiksi tentang karakter seperti dia—membuat seseorang di Jakarta, jam 01.52 dini hari, berhenti sejenak dari autopilot. Membuat seseorang yang lelah, yang tidak bisa tidur, yang tidak tahu sedang mencari apa, untuk pause—berhenti sebentar—dan aware. Sadar. Hadir.
Dan mungkin itu okay. Mungkin dampak tidak perlu diketahui untuk tetap real—nyata. Seperti roti yang sampai ke anak kecil yang Pak Budi tidak kenal namanya. Seperti kehangatan yang dia ciptakan yang mengalir keluar dari toko kecil di Jatibening, masuk ke layar laptop di apartemen Jakarta, menyentuh seseorang yang tidak akan pernah dia temui.
Saya masih belum tahu apa yang saya cari. Saya masih belum tahu apakah tujuh tahun lagi—atau dua puluh tahun lagi—saya bisa bilang "ternyata lebih baik" seperti Pak Budi. Saya masih belum tahu apakah saya akan menemukan piano saya atau akan tetap hidup tanpanya.
Tapi hari ini, untuk beberapa jam, saya berhenti mencari dan hanya... membaca. Merasakan. Memproses. Menulis ini—bukan untuk siapa-siapa, mungkin hanya untuk diri saya sendiri lima tahun dari sekarang yang membaca ulang dan bertanya "apa yang kamu rasakan waktu itu?"
Dan mungkin itu cukup.
Mungkin hari ini—hari ini, dengan insomnia-nya, dengan tulisan tentang tukang roti yang saya baca jam 23.47, dengan awareness baru yang kecil tapi ada—baik.
Tidak sempurna. Tidak transformatif. Tidak akan mengubah hidup saya besok.
Tapi baik.
Hari ini baik.
Catatan: Tulisan ini ditulis antara jam 00.23 sampai 06.47 pagi, dalam satu sesi tanpa tidur, setelah membaca "Roti Jam Lima Pagi". Ini bukan review objektif. Ini personal. Ini tentang apa yang tulisan itu picu dalam diri saya yang mungkin sudah lama ada tapi baru sekarang saya sadari. Kalau Anda membaca tulisan yang sama dan tidak merasakan apa-apa—atau merasakan sesuatu yang sangat berbeda—itu valid. Resonansi tidak universal. Tapi untuk saya, malam ini, tulisan itu membuat saya berhenti. Dan kadang, berhenti adalah langkah pertama sebelum bergerak ke arah yang lebih deliberate—lebih disengaja, lebih sadar, lebih hadir.
Referensi dan Bacaan Lanjutan
Untuk pembaca yang tertarik mendalami beberapa konsep yang saya singgung dalam tulisan ini:
- Tentang ritme sirkadian dan jam biologis tubuh: National Sleep Foundation memiliki artikel komprehensif tentang bagaimana tubuh manusia memiliki internal clock yang mengatur siklus tidur-bangun. Penelitian menunjukkan bahwa rutinitas yang konsisten—seperti bangun di waktu yang sama setiap hari—dapat memperkuat ritme alami tubuh dan meningkatkan kualitas tidur serta kesehatan mental.
- Tentang pekerjaan sebagai bentuk kontemplasi: Matthew Crawford dalam bukunya Shop Class as Soulcraft: An Inquiry Into the Value of Work (2009) membahas bagaimana pekerjaan manual—kerja tangan—bisa menjadi lebih bermakna daripada pekerjaan kognitif yang terpisah dari hasil fisik. Crawford, yang meninggalkan karirnya sebagai direktur di think tank untuk menjadi mekanik sepeda motor, berargumen bahwa ada kepuasan mendalam dalam pekerjaan yang memiliki hasil konkret dan langsung.
- Tentang ikigai: Konsep Jepang tentang "alasan untuk hidup" ini telah banyak diteliti dalam konteks kesejahteraan dan umur panjang. Studi dari Tohoku University menunjukkan bahwa orang yang memiliki ikigai—sense of purpose atau tujuan hidup yang jelas—cenderung hidup lebih lama dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Ikigai ditemukan di pertemuan antara apa yang kita cintai (passion), apa yang kita kuasai (profession), apa yang dunia butuhkan (mission), dan apa yang bisa menghidupi kita (vocation).
Ditulis di Jakarta, Desember 2025, di apartemen lantai sepuluh dengan view gedung-gedung lain yang tidak jauh berbeda, sambil mendengar suara AC dan sesekali motor dari jalan raya, dalam keadaan belum tidur dan terlalu banyak mikir.

Comments