Resonansi Keseharian: Refleksi atas Mie Ayam Pak Samsul
Kapan terakhir kali kita benar-benar hadir dalam rutinitas kita? Bukan sekadar menjalani, tapi merasakan setiap gerakan, setiap momen, dengan kesadaran penuh. Pertanyaan ini menggantung di kepala saya ketika membaca "Mie Ayam Pak Samsul"—sebuah narasi yang tampak sederhana tentang seorang penjual mie ayam keliling, namun menyimpan kedalaman filosofis yang menggetarkan.
Ini bukan cerita tentang perjuangan heroik atau pencapaian luar biasa. Justru kekuatannya terletak pada kebalikannya: kisah tentang seorang manusia yang memilih untuk hadir, konsisten, dan bermartabat dalam kesederhanaan sehari-hari. Dan di situ saya menemukan cermin untuk melihat kembali asumsi kita tentang apa yang membuat hidup bermakna.
Anatomi Rutinitas: Ketika Pengulangan Menjadi Ritual
"Jam lima pagi, Pak Samsul bangun tanpa alarm. Dua puluh tujuh tahun sudah cukup untuk mengajari tubuhnya kapan harus bangun."
Kalimat pembuka ini langsung menarik saya masuk. Bukan alarm yang membangunkan Pak Samsul, tapi tubuhnya yang sudah mengingat. Ada sesuatu yang dalam tentang ini—tentang bagaimana pengulangan yang dilakukan dengan kesadaran penuh bisa mengubah rutinitas menjadi ritual.
Penulis menggunakan struktur waktu yang sangat deliberatif. Setiap bagian ditandai dengan jam yang spesifik: pukul lima pagi, pukul sembilan, pukul dua belas, hingga pukul sembilan malam. Ini bukan sekadar kronologi. Ini adalah cara Pak Samsul mengukur hidupnya—bukan dengan tahun atau pencapaian besar, tapi dengan akumulasi hari-hari yang dijalani dengan penuh perhatian.
Yang membuat tulisan ini kuat adalah gaya penulisannya yang minimalis. Kalimat-kalimat pendek, deliberatif, seperti ketukan metronom: "Pisau terangkat. Daging ayam tersuwir dari tulang. Ada irama dalam gerakan ini—suwir, lepas, suwir, lepas—seperti napas." Setiap gerakan dipecah menjadi unit terkecil. Setiap tindakan diberi ruang untuk bernapas. Ini memaksa kita sebagai pembaca untuk melambat, untuk merasakan setiap momen sebagaimana Pak Samsul merasakannya.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri: mengapa kita sering melihat rutinitas sebagai beban? Bangun pagi, siap-siap kerja, perjalanan yang sama, tugas yang berulang. Kita menyebutnya "rutinitas membosankan" atau "hamster wheel". Tapi tulisan ini menunjukkan sesuatu yang berbeda—bahwa rutinitas bisa menjadi jangkar eksistensial. Sesuatu yang memberi kita tempat di dunia.
"Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah ritual. Cara Pak Samsul mengatakan pada dirinya sendiri: hari ini, seperti kemarin, seperti besok, kamu punya tempat di dunia ini."
Ada perbedaan mendasar antara rutinitas dan ritual. Rutinitas adalah sesuatu yang kita lakukan tanpa pikir, autopilot, sekadar untuk selesai. Ritual adalah sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh, dengan penghormatan pada prosesnya sendiri. Pak Samsul tidak sekadar menyuwir ayam—dia melakukannya dengan irama, dengan perhatian, dengan kesadaran bahwa ini adalah bagian dari keberadaannya.
Filosofi Pilihan: "Bukan Karena Harus, Karena Mau"
Frase ini diulang beberapa kali sepanjang narasi, seperti mantra: "Bukan karena harus. Karena mau." Dan ini adalah inti dari seluruh cerita—perbedaan antara keterpaksaan dan agensi, antara nasib dan pilihan.
Ada momen ketika anak Pak Samsul menelepon, menawarkan uang. Pak Samsul menolak: "Bapak masih bisa kerja. Kamu simpan untuk cucumu." Ini bukan soal kebutuhan finansial. Ini soal martabat. Soal memilih untuk tetap aktif, tetap produktif, bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena itu adalah cara dia memilih untuk eksis.
Dalam filsafat eksistensialisme, konsep ini sangat sentral. Jean-Paul Sartre pernah bilang bahwa manusia dikutuk untuk bebas—kita selalu punya pilihan, bahkan ketika kita merasa tidak punya. Pak Samsul mewujudkan ini dengan cara yang sangat konkret. Dia bisa berhenti. Dia bisa menerima uang anaknya dan pensiun. Tapi dia memilih untuk keluar setiap hari, memilih untuk dorong gerobak, memilih untuk jualan.
"Dia tidak jualan karena tidak punya pilihan lain. Dia jualan karena ini adalah pilihannya. Ini adalah cara dia ada di dunia."
Membaca ini, saya jadi merefleksikan kehidupan saya sendiri. Berapa banyak yang saya lakukan karena "harus" versus karena saya benar-benar memilih untuk peduli? Pekerjaan saya, relasi saya, aktivitas sehari-hari—apakah saya melakukannya dengan rasa agensi, atau sekadar bereaksi pada ekspektasi eksternal?
Ada kebebasan yang aneh dalam pengakuan ini. Ketika kita menyadari bahwa kita selalu punya pilihan—bahkan pilihan untuk tetap dalam situasi yang sulit—kita berhenti menjadi korban. Kita menjadi agen dari hidup kita sendiri. Dan dengan agensi itu datang tanggung jawab, tapi juga martabat.
Impermanensi dan Apa yang Bertahan
Salah satu kontras paling menarik dalam tulisan ini adalah antara perubahan dan kontinuitas. Dunia di sekitar Pak Samsul terus berubah—komplek apartemen baru dibangun di tempat yang dulu tanah kosong, anak-anak langganan lama tumbuh dewasa dan pergi kuliah, teknologi aplikasi pesan-antar mengubah cara orang makan.
"Pak Samsul tidak menyalahkan mereka. Zaman berubah. Cara orang makan berubah. Itu bukan hal yang bisa dia kontrol. Yang bisa dia kontrol: kualitas mie-nya, jam keluarnya, senyumnya. Itu saja."
Ada kebijaksanaan mendalam di sini tentang apa yang kita bisa kontrol dan apa yang tidak. Dalam zaman yang terobsesi dengan "disruption" dan "innovation", Pak Samsul mengajarkan sesuatu yang berbeda: nilai dari konsistensi. Nilai dari menjadi jangkar dalam dunia yang terus berubah.
Tapi ini bukan resistensi buta terhadap perubahan. Pak Samsul tidak menolak modernitas—dia hanya memilih apa yang tidak boleh berubah. Rasa mie-nya konsisten selama dua puluh tujuh tahun. Jam keluarnya sama. Rute hariannya tetap. Ini bukan karena dia stuck in the past, tapi karena dia memilih untuk mempertahankan integritas dan kualitas sebagai prinsip non-negotiable.
Saya suka metafora gerobak dan cermin retak yang muncul di awal cerita: "Cermin di atas wastafel retak di pojok kiri atas. Retak yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Pak Samsul lihat wajahnya di cermin itu. Retaknya tidak mengubah apa yang dia lihat. Cermin masih berfungsi. Tidak perlu ganti."
Cat gerobak mengelupas. Kayu kusam. Roda aus. Cermin retak. Tapi semuanya masih berfungsi. Keausan bukan tanda kegagalan—itu bukti pengalaman, bukti bahwa sesuatu telah digunakan dengan baik dan terus digunakan. Dalam budaya kita yang terobsesi dengan yang baru dan mengkilap, ada pelajaran penting di sini tentang nilai dari yang bertahan, yang tested by time.
Kesendirian yang Tidak Sepi: Hadir Tanpa Pengakuan
Ada beberapa momen dalam cerita di mana Pak Samsul tidak mendapat pengakuan yang mungkin dia layak dapatkan. Anak SMP yang makan sambil main HP, tidak ada kontak mata, tidak ada terima kasih. Anak-anak sekolah yang komplain harganya mahal dan akhirnya pergi. Orang-orang di komplek apartemen yang bahkan tidak melirik gerobaknya.
"Pak Samsul tidak merasa diabaikan. Dia cuma duduk, lihat dunia bergerak. Ada kedamaian dalam hal ini—duduk, tunggu, tidak mengharapkan apa-apa."
Ini adalah salah satu bagian yang paling powerful buat saya. Dalam era media sosial di mana kita terbiasa mengukur nilai dari likes dan validasi eksternal, Pak Samsul menunjukkan bentuk keberadaan yang berbeda—hadir tanpa mengharapkan pengakuan.
Dia tidak jualan untuk dengar ucapan terima kasih. Dia tidak jualan untuk mendapat pujian. Dia jualan karena itu adalah cara dia memberikan kontribusi, cara dia ada di dunia. Motivasinya intrinsik, bukan ekstrinsik.
Psikolog Edward Deci dan Richard Ryan punya teori tentang ini—Self-Determination Theory—yang membedakan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Orang yang motivasinya intrinsik melakukan sesuatu karena aktivitas itu sendiri yang memuaskan, bukan karena reward eksternal. Mereka cenderung lebih tahan lama, lebih puas, lebih autentik.
Pak Samsul menemukan kedamaian dalam kesendirian—duduk di pinggir jalan, menunggu pembeli yang mungkin tidak datang, watching the world move. Ini bukan kesendirian yang sepi atau melankolis. Ini adalah solitude yang meditatif, ruang untuk hadir sepenuhnya tanpa distraksi.
Dimensi Relasional: Koneksi Tanpa Kata
Meskipun Pak Samsul sering sendirian, tulisan ini juga tentang relasi—tapi relasi jenis yang berbeda dari yang biasa kita kenal.
Ada Ibu Siti yang sudah dua puluh tahun beli mie dari Pak Samsul, selalu pakai mangkuk plastik hijau yang sama. Ada Pak Harto, pensiunan guru yang Pak Samsul tahu suka "sedikit mie, banyak kuah, tanpa cabe" meskipun tidak pernah ditanya secara eksplisit.
"Dua puluh tahun cukup untuk tahu tanpa perlu bertanya."
Ini adalah keintiman yang dibangun bukan melalui percakapan panjang atau sharing mendalam, tapi melalui konsistensi dan perhatian pada detail kecil. Pak Samsul tahu preferensi pelanggannya karena dia memperhatikan, karena dia hadir dengan penuh perhatian setiap kali melayani.
Dalam dunia yang semakin mengandalkan komunikasi digital—chat cepat, emoji, voice note—kita mungkin kehilangan jenis koneksi ini. Koneksi yang dibangun pelan-pelan, melalui kehadiran fisik yang konsisten, melalui ritual yang berulang, melalui perhatian tanpa kata.
Saya ingat teori sosiolog Ray Oldenburg tentang "third places"—tempat-tempat di luar rumah dan kantor di mana komunitas terbentuk secara organik. Warung kopi langganan, tukang cukur, atau dalam kasus ini, penjual mie ayam keliling. Tempat-tempat di mana kita dikenal, di mana kehadiran kita diharapkan, di mana ada sense of belonging yang halus tapi nyata.
Tubuh sebagai Arsip Pengalaman
"Dua puluh tujuh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk tubuh mengingat sesuatu lebih baik daripada pikiran."
Ada tema menarik tentang embodied knowledge—pengetahuan yang tersimpan dalam tubuh, bukan hanya dalam otak. Tangan Pak Samsul tahu bagaimana menyuwir ayam tanpa perlu dia pikirkan. Kakinya tahu rute harian tanpa perlu dia lihat peta. Tubuhnya bangun jam lima pagi tanpa alarm.
Ini adalah jenis pengetahuan yang kita sering remehkan dalam kultur yang sangat cerebral. Kita menghargai pengetahuan teoretis, pengetahuan yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi ada pengetahuan lain—pengetahuan tukang kayu yang tahu kapan kayu siap dipotong dari teksturnya, pengetahuan chef yang tahu kapan masakan matang dari baunya, pengetahuan Pak Samsul yang tahu cara memasak sempurna dari ribuan pengulangan.
Filsuf Maurice Merleau-Ponty punya konsep tentang ini—"body schema"—bagaimana tubuh kita memiliki intelligence sendiri, cara tersendiri untuk memahami dan berinteraksi dengan dunia. Ini bukan soal mind over body, tapi mind and body sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Yang menarik adalah bagaimana tulisan ini juga menggambarkan rasa sakit fisik—rematik di tangan kanan Pak Samsul—bukan sebagai keluhan, tapi sebagai penanda. "Rasa sakit adalah pengingat bahwa dia masih hidup, masih bergerak." Tubuh yang aus bukan tanda kekalahan, tapi bukti bahwa dia telah hidup dengan penuh, telah menggunakan tubuhnya untuk tujuan yang dia pilih.
Ekonomi Gerakan: Estetika Efisiensi
Ada sesuatu yang hampir puitis dalam cara penulis menggambarkan Pak Samsul bekerja. Setiap gerakan ekonomis—tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang terbuang. "Tuang kuah dengan gerakan yang ekonomis, tidak ada yang terbuang."
Ini bukan sekadar efisiensi praktis untuk menghemat waktu dan material. Ini adalah filosofi hidup—menghormati material yang dia gunakan, menghormati waktu yang dia miliki, menghormati energi tubuhnya. Ada semacam estetika dalam efisiensi ini, keindahan dalam gerakan yang purposeful.
Saya teringat konsep wabi-sabi dalam estetika Jepang—keindahan dalam kesederhanaan, dalam imperfeksi, dalam hal-hal yang natural dan unadorned. Atau konsep "shibui"—keindahan yang subtle, understated, effortless. Cara Pak Samsul bekerja memiliki kualitas ini—tidak flashy, tidak showy, tapi indah dalam kesederhanaan dan purposefulness-nya.
Dalam budaya konsumerisme dan excess, di mana kita terbiasa dengan "more is more", ada pembelajaran penting di sini tentang nilai dari "just enough". Tidak kurang, tidak lebih. Pas.
Ketegangan antara Tradisi dan Modernitas
Momen paling telling tentang ini adalah ketika Pak Samsul berada di komplek Green Pramuka Square—gedung-gedung tinggi, kaca yang memantulkan matahari, orang-orang sibuk dengan HP mereka. "Orang-orang di komplek ini lebih suka pesan lewat aplikasi. Lebih cepat. Lebih praktis."
Tidak ada judgment di sini. Tidak ada nostalgia yang sentimental tentang "dulu lebih baik". Pak Samsul mengakui bahwa dunia berubah, cara orang hidup berubah. Dia tidak menolak perubahan—dia hanya tidak digilas olehnya. Dia tetap konsisten dengan caranya, tidak karena resisten terhadap yang baru, tapi karena dia percaya pada nilai dari apa yang dia lakukan.
Ada pertanyaan yang relevan untuk kita semua di sini: Bagaimana kita bisa adaptif tanpa kehilangan inti dari siapa kita? Bagaimana kita merangkul perubahan tanpa kompromi pada prinsip-prinsip yang kita yakini penting?
Pak Samsul tidak bersaing soal harga dengan penjual lain yang lebih murah. Dia tidak bersaing soal kecepatan dengan aplikasi delivery. Dia bersaing—atau lebih tepatnya, dia menawarkan—konsistensi. "Dua puluh tujuh tahun, rasa mie-nya tidak berubah. Itu yang dia tawarkan."
Dalam dunia yang obsesif dengan innovation dan disruption, ada counter-narrative di sini: bahwa ada nilai dalam konsistensi, ada nilai dalam tradisi, ada nilai dalam cara-cara lama yang proven berhasil.
Martabat dalam Pekerjaan Kasar
Salah satu tema yang paling penting tapi paling subtle dalam tulisan ini adalah tentang martabat kerja. Pak Samsul adalah penjual mie ayam keliling—dalam hierarki sosial kita, ini bukan pekerjaan yang prestigious. Tapi tulisan ini menantang hierarki itu.
Martabat Pak Samsul tidak datang dari status pekerjaannya. Martabatnya datang dari cara dia melakukan pekerjaannya—dengan integritas, dengan konsistensi, dengan perhatian pada detail, dengan pilihan sadar untuk hadir sepenuhnya.
Ada momen powerful ketika Pak Samsul menolak uang anaknya: "Bapak masih bisa kerja." Ini adalah penegasan martabat—bahwa kemampuan untuk bekerja, untuk produktif, untuk contribute, adalah sesuatu yang valuable, regardless of jenis pekerjaannya.
Dalam narasi original, ada kalimat yang stay with me: "Tidak spektakuler. Tidak heroik. Cuma penjual mie ayam keliling. Tapi itu cukup—bukan karena dia menyerah pada takdir, tapi karena dia memilih takdir ini dengan sadar."
Ini adalah counter terhadap narrative umum tentang success dan achievement. Kita sering told bahwa untuk hidup bermakna, kita harus achieve something big, harus membuat mark, harus distinguished ourselves. Tapi Pak Samsul menunjukkan sesuatu yang berbeda: bahwa makna bisa ditemukan dalam konsistensi daily contribution, dalam melakukan hal kecil dengan great care.
Waktu Siklis versus Waktu Linear
Cara Pak Samsul mengalami waktu sangat berbeda dari cara kita modern biasanya mengalami waktu. Kita terbiasa dengan konsep waktu linear—moving forward, progressing, achieving milestones, climbing ladders. Masa lalu, sekarang, masa depan—semuanya arranged dalam garis lurus.
Tapi Pak Samsul mengalami waktu secara siklis. Setiap hari adalah repetisi: bangun jam lima, siapkan bumbu, dorong gerobak, jualan di rute yang sama, pulang, bersih-bersih, tidur. Besok akan sama. Hari setelahnya akan sama.
Tapi ini bukan stagnasi. Setiap hari adalah reafirmasi—pilihan ulang untuk eksis dengan cara ini, untuk commit pada cara hidup ini. Seperti pohon rambutan yang tumbuh di Kampung Rawa: "Pohon itu sudah tinggi sekarang. Dulu, tahun 1998, cabang-cabangnya masih bisa dia raih dengan tangan. Sekarang cabang-cabangnya sampai ke atap rumah."
Perubahan terjadi, tapi di sekitar siklus yang tetap. Pohon tumbuh, anak-anak menjadi dewasa, komplek baru dibangun—tapi Pak Samsul tetap dorong gerobak di bawah pohon yang sama, di rute yang sama. Ini bukan tentang resistance terhadap perubahan, tapi tentang being the constant dalam perubahan.
Ada pertanyaan yang muncul: Apakah kita terlalu obsessed dengan progres hingga melupakan nilai dari konsistensi? Apakah "moving up" selalu lebih baik daripada "staying present"?
Menutup Hari: Ritual sebagai Komitmen
"Pukul tujuh malam, dia mulai bersih-bersih gerobak. Ini bukan kewajiban. Ini adalah ritual. Cara dia menutup hari, cara dia mempersiapkan besok."
Bagian ini mengingatkan saya pada konsep "closing ritual"—pentingnya cara kita mengakhiri hari. Pak Samsul tidak sekadar collapse di tempat tidur setelah hari yang panjang. Dia menutup harinya dengan perhatian penuh—membersihkan gerobak, mencuci peralatan, mengecek bumbu untuk besok.
"Setiap gerakan dia lakukan dengan perhatian penuh. Tidak terburu. Tidak asal-asalan."
Ini adalah bentuk mindfulness dalam praktik. Bukan mindfulness sebagai teknik spiritual yang eksotis, tapi mindfulness sebagai cara hidup—hadir sepenuhnya dalam setiap tindakan, tidak peduli seberapa mundane tindakan itu.
Ada dignity dalam cara Pak Samsul menutup harinya. Dia tidak mengakhiri dengan exhaustion atau resignation, tapi dengan sense of completion—saya sudah melakukan apa yang perlu saya lakukan hari ini, dan sekarang saya siap untuk besok.
Saya jadi bertanya pada diri sendiri: Bagaimana saya menutup hari saya? Apakah dengan scroll social media hingga mata lelah? Apakah dengan menonton Netflix hingga tertidur? Atau apakah saya punya ritual yang meaningful, yang memberi closure dan mempersiapkan saya untuk hari berikutnya?
Resonansi dan Jejak yang Kita Tinggalkan
Kita kembali ke pertanyaan awal: Apa yang membuat hidup bermakna?
Pak Samsul tidak meninggalkan legacy besar. Dia tidak akan masuk buku sejarah. Tidak akan ada monument untuk mengenangnya. Tapi ada sesuatu yang dia tinggalkan—bunyi derit gerobaknya yang menjadi bagian dari soundtrack pagi hari Cempaka Putih, rasa mie ayam yang konsisten selama dua puluh tujuh tahun, kehadiran yang reliable di rute hariannya.
"Di suatu tempat di jalanan Cempaka Putih, seseorang akan tunggu bunyi itu—mungkin tanpa sadar, mungkin tanpa tahu kenapa bunyi gerobak itu penting. Tapi Pak Samsul tahu. Bunyi itu adalah bukti bahwa dia masih di sini, masih bergerak, masih memilih untuk keluar setiap hari."
Ini adalah jenis jejak yang berbeda—bukan monumental, tapi intimate. Bukan untuk massa, tapi untuk orang-orang spesifik di komunitas kecil. Tapi tidakkah jejak semacam ini sama berharganya? Tidakkah menjadi presence yang consistent dan reliable dalam kehidupan orang lain adalah bentuk kontribusi yang meaningful?
Saya teringat konsep "adjacent possible" dari teori kompleksitas—ide bahwa setiap tindakan kita membuka kemungkinan-kemungkinan baru, tidak hanya untuk diri kita tapi untuk sistem di sekitar kita. Pak Samsul yang keluar setiap hari bukan hanya tentang dia dan mie ayamnya. Ini tentang Ibu Siti yang bisa memberi makan keluarganya, tentang Pak Harto yang punya ritual pagi yang dia nantikan, tentang anak SMP yang bisa dapat makan siang.
Keberadaannya menciptakan ripple effects yang mungkin dia sendiri tidak sepenuhnya aware. Dan bukankah itu juga berlaku untuk kita semua? Bahwa kehadiran konsisten kita, cara kita menjalani hidup sehari-hari, menciptakan impact yang lebih besar dari yang kita kira?
Penutup: Menemukan Gerobak Kita
Setelah merenungkan tulisan ini panjang lebar, saya sampai pada realisasi sederhana tapi profound: kita semua punya "gerobak" kita masing-masing.
Gerobak di sini adalah metafora untuk whatever it is yang kita pilih untuk dorong setiap hari—pekerjaan kita, relasi kita, craft kita, cara kita contribute ke dunia. Pertanyaannya bukan apakah gerobak kita besar atau kecil, prestigious atau humble. Pertanyaannya adalah: Apakah kita mendorongnya karena harus, atau karena mau?
Apakah kita hadir sepenuhnya dalam proses mendorong gerobak itu? Apakah kita melakukannya dengan integritas dan perhatian? Apakah kita konsisten, tidak karena stubborn, tapi karena kita percaya pada nilai dari apa yang kita lakukan?
Pak Samsul tidak memberikan jawaban easy atau inspirational quotes yang bisa di-post di Instagram. Dia tidak bilang "follow your passion" atau "you can be anything you want". Pesannya lebih subtle, lebih grounded, lebih menantang:
Pilih sesuatu. Commit pada itu. Lakukan dengan sepenuh hati. Hadiri setiap hari. Tidak untuk pengakuan, tidak untuk glory, tapi karena itu adalah cara kamu memilih untuk eksis di dunia.
Dan dalam kesederhanaan itu—dalam pilihan sadar untuk hadir, konsisten, dan bermartabat dalam keseharian—kita menemukan sesuatu yang lebih profound dari achievement atau success. Kita menemukan makna.
Gerobak terparkir di luar, menunggu pagi. Seperti biasa.
Tulisan ini adalah refleksi personal atas narasi "Mie Ayam Pak Samsul" yang mengeksplorasi tema-tema filosofis tentang makna, pilihan, dan keberadaan autentik dalam kesederhanaan sehari-hari.

Comments